Nov 21

Usai shalat fardhu ashar berjamaah, ia datang menghampiri saya. Sebagaimana yang telah kami sepakati untuk berjumpa di mesjid Saqar Quraisy di Hay ‘Asyir. Wajahnya terlihat sendu dan lesu. Sepertinya ada beban berat yang tengah menghimpit jiwanya.

Air matanya berderai dan tangisnyapun tumpah. Ia tak sanggup lagi menahan gejolak perasaan yang ada dalam hatinya. Ia sangat mencintai istri dan kedua orang anaknya. Ia tak ingin pernikahannya berakhir dengan perceraian. Namun ia masih bingung mencari solusi yang tepat atas permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan istrinya. Ia berkata, “Akhi, saya tidak tahu harus berbuat apa, kami sering cekcok karena hanya permasalahan sepele, sayapun kadang tak betah dirumah, namun untuk bermalam diluar rumah, bagi saya hal itu tak akan mungkin saya lakukan”.

Saya berusaha menenangkan hatinya dan mencoba memberinya secercah harapan dan optimisme dan saya menyarankan padanya untuk melakukan tiga hal. Pertama, setiap hari bangun pada waktu malam untuk shalat tahajud dengan istri, menumpahkan seluruh perasaan pada Allah Swt. Zat yang maha tahu dan maha mendengar. Kedua, setiap hari membaca al-Qur’an pada waktu pagi, sore dan malam dengan istri dan setelahnya melakukan introspeksi diri tanpa saling menyalahkan dan ketiga, saya memintanya banyak berdoa untuk kebaikan istri dan keutuhan keluarganya pada saat-saat yang mustajab. Dan setelah itu saya memintanya untuk bertemu kembali satu minggu kemudian.

Satu minggu berlalu, kami berjumpa di mesjid As Salam, Bawwabah Ula, setelah shalat jum’at. Ia datang dengan senyum yang mengembang. Wajahnya bersinar. Setelah bersalaman iapun memeluk saya penuh erat dan berucap, “Akhi, jazakallahu khairan, qad aslah-Allahu baini wa baina zaujati, wal-an nahnu fis sa’adah was sakinah wal mawaddah war rahmah”.

Hati saya pun turut berbahagia mendengarnya, “Semoga Allah Swt. selalu menjaga keutuhan keluarga akhi Farhan”, ucap saya dengan penuh harap dan iapun mengamininya.

Sepenggal kisah ilustrasi diatas menggambarkan pada kita bahwa kehidupan rumah tangga tidak selamanya bahagia. Tidak selamanya senyum tawa, riang gembira mengisi kebersamaan seorang suami dengan istri.

Adakalanya deraian tangis air mata harus tertumpah, adakalanya ketidak puasan terhadap pasangan masing-masing tarasa di hati. Ibarat roda kehidupan, kadang di atas dan kadang dibawah, begitu juga yang terjadi pada kehidupan rumah tangga. Ada pasang dan surutnya.

Hal seperti ini wajar terjadi, karena menikah merupakan penyatuan dua wujud manusia yang berbeda dari segi watak, sikap dan karakter.

Pada awal pernikahan biasanya konflik sangat jarang terjadi, seperti kapal yang baru memulai pelayarannya mengarungi samudra yang luas. Kedua pasangan berusaha untuk menutupi kekurangan mereka dari yang lain. Satu sama lain berupaya memberikan pelayanan terbaik pada pasangannya. Terkadang menonjolkan diri dan melebih-lebihkan hal yang mestinya wajar.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, semakin jauh jarak yang ditempuh, maka satu persatu terlihatlah hal-hal yang kurang disukai dari pasangan. Sebahagian pasangan bisa menyikapi perbedaan-perbedaan yang terjadi diantara mereka dengan arif dan bijaksana. Mereka tidak mudah terprovokasi dengan adanya perbedaan tersebut, bahkan ia bisa menjadi peluang amal kebaikan. Hal ini terwujud karena satu sama lain selalu berlapang hati dan menerima pasangan masing-masing dengan ikhlas. Mereka tidak mengedepankan sikap egois dan emosi, tapi dengan fikiran yang jernih dan hati yang bersih mereka berusaha untuk mencari titik temu dan persamaan hingga terwujudlah sebuah rumah tangga bahagia dan menentramkan.

Dan sebahagian yang lain, adanya perbedaan membuka ruang masalah baru bagi mereka. Satu sama lain tidak mau mengalah dan berusaha ingin menang sendiri. Hingga rumah menjadi tempat yang tidak menyenangkan. Karena pertikaian selalu terjadi. Suami merasa tidak betah dirumah, ia lebih suka berada diluar rumah dan pulang larut malam.

Pada intinya semua masalah akan bisa terselesaikan bila kedua belah pihak ada keinginan yang jujur untuk memperbaiki diri, menyadari kalau telah berlaku salah dan mudah memberikan maaf pada yang lain. Kembali pada hati, hati yang dibina dengan taqwa, keimanan dan selalu dilatih dengan amalan akan cenderung pada kebaikan. Namun bila hati diberikan pada hawa nafsu dan syetan, ia akan sulit untuk menerima kebenaran, apalagi nafsu yang cenderung selalu ingin merasa benar.

Semoga bermanfaat.

(Untuk bidadariku, “Thank`s atas cinta dan rumah yang menentramkan. I love you so much and forever.”)

Cairo, 2008

Arif Salman

Share

Leave a Reply