<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mutiara &#187; sudut pandang Islam</title>
	<atom:link href="http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/category/sudut-pandang-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara</link>
	<description>Tak lekang oleh waktu</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Aug 2009 08:30:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cell phone vs. Quran</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/cell-phone-vs-quran/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/cell-phone-vs-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 07:21:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[sudut pandang Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[cell phones]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Ever wonder what would happen if we treated our Quran like we treat our cell phone?
What if we carried it around in our purses or pockets?
What if we flipped through it several time a day?
What if we turned back to go get it if we forgot it?
What if we used it to receive messages from [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ever wonder what would happen if we treated our Quran like we treat our cell phone?</p>
<p>What if we carried it around in our purses or pockets?</p>
<p>What if we flipped through it several time a day?</p>
<p>What if we turned back to go get it if we forgot it?</p>
<p>What if we used it to receive messages from the text?</p>
<p>What if we treated it like we couldn&#8217;t live without it?</p>
<p>What if we gave it to kids as gifts?</p>
<p>What if we used it when we traveled?</p>
<p>What if we used it in case of emergency?</p>
<p>This is something to make you go&#8230;.hmm&#8230; where is my Quran?</p>
<p>Oh, and one more thing.</p>
<p>Unlike our cell phone, we don&#8217;t have to worry about our Quran being disconnected.</p>
<p>Makes you stop and think &#8216;where are my priorities? And no dropped calls!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/cell-phone-vs-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekayaan yang Hakiki</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/kekayaan-yang-hakiki/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/kekayaan-yang-hakiki/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 06:56:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[sudut pandang Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kekayaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Seorang sahabat bernama Andi, -bukan nama asli-, berkisah bahwa ia pernah bekerja di sebuah perusahaan Yahudi. Ia sudah menjadi manusia yang kaya raya di usianya yang lagi belum mencapai 40 tahun. Lebih dari 200 negara sudah ia sambangi. Semua itu dilakukan demi mencari kekayaan dunia untuknya, dan untuk perusahaannya yang dimiliki orang Yahudi.
Dia bertutur betapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang sahabat bernama Andi, -bukan nama asli-, berkisah bahwa ia pernah bekerja di sebuah perusahaan Yahudi. Ia sudah menjadi manusia yang kaya raya di usianya yang lagi belum mencapai 40 tahun. Lebih dari 200 negara sudah ia sambangi. Semua itu dilakukan demi mencari kekayaan dunia untuknya, dan untuk perusahaannya yang dimiliki orang Yahudi.</p>
<p>Dia bertutur betapa satu sen pun harus dikejar dalam bisnisnya. Kerugian meski hanya satu dollar akan membuat pemilik usaha menjadi panik. Apalagi model krisis global seperti saat ini. Selalu mencari harta. Mengejar kekayaan dunia. Takut miskin. Itulah yang selalu tertanam dalam benaknya!</p>
<p>Namun dalam sebuah tugasnya di Maroko, Afrika Utara. Andi ini singgah di sebuah perkampungan muslim yang sederhana lagi bersahaja. Sebagai seorang muslim, kehadirannya di kampung itu disambut dengan baik oleh muslim di sana.<br />
<span id="more-94"></span><br />
Andi dijamu makan dan makanan untuk disantap pun sudah tersaji dihadapan. Namun tidak seorang pun mulai menyantap makanan dan Andi pun belum lagi dipersilakan. Hingga seseorang datang ke dalam ruang makan lalu menyampaikan berita kepada tuan rumah dalam bahasa Arab. Usai itu, Andi pun dipersilakan untuk makan.</p>
<p>Saat menyantap hidangan itu, Andi diberitahu oleh tuan rumah bahwa warga kampung muslim tersebut tidak akan pernah menyantap makanan, selagi mereka belum merasa yakin bahwa di luar sana tidak ada seorang pun yang kelaparan. Warga di dusun tersebut saling berbagi makanan antara satu rumah dengan yang lain. Dan orang yang datang sebelum santap makanan tadi, adalah pembawa kabar bagi tuan rumah yang menyampaikan bahwa ia sudah membagi makanan bagi penduduk kampung yang belum mendapat makanan.</p>
<p>Andi malam itu mendapat pelajaran berharga bahwa berbagi kepada sesama akan membawa ketentraman dan kebahagiaan. Penduduk desa ini mayoritas adalah penduduk miskin, namun mereka bahagia dengan cara berbagi kepada sesama. Inilah pelajaran yang jauh berbeda dari apa yang Andi dapatkan di perusahaan tempat ia bekerja.</p>
<p>Usai dari Maroko, ia ditugaskan untuk terbang ke Cairo, Mesir. Perjalanan bisnis malam itu membawa dirinya untuk menyewa sebuah taksi di sana. Taksi di kota Seribu Menara itu dimiliki oleh perorangan, dan kebanyakan armadanya sudah jelek dan bobrok.</p>
<p>Malam itu Andi membuka pembicaraan dengan sopir taksi Mesir demi memecah kebekuan. &#8220;Berapa uang yang kau hasilkan dalam sehari dengan membawa taksi seperti ini?&#8221; Andi melempar tanya kepada sopir taksi. Dibenaknya Andi akan membayangkan betapa jauh penghasilan yang akan disebutkan oleh sopir taksi ini dibandingkan penghasilan yang ia dapatkan di perusahaan Yahudi terkenal. &#8220;Aku tak membawa taksi ini seharian!&#8221; jawab sopir itu dengan bahasa Inggris sekenanya.</p>
<p>&#8220;Apakah kamu punya pekerjaan lain di luar sana?&#8221; kejar Andi. &#8220;Alhamdulillah, aku punya dua pekerjaan yang diberi Allah untukku. Dari pagi hari sampai sore aku bekerja di restoran, malam harinya aku menjadi supir taksi!&#8221; sahut sang sopir.<br />
&#8220;Apakah hidup di Mesir sudah sedemikian sulit sehingga engkau harus bekerja double dan mencari nafkah sampai malam?&#8221; tanya Andi lagi. &#8220;Tidak&#8230;., hidup di negeri ini amat nikmat sekali! Dari pagi hingga sore aku mencari nafkah untuk diriku dan keluarga dan itu cukup untuk kami&#8230;&#8221; jelas sang sopir. &#8220;Lalu mengapa engkau menjadi sopir taksi?&#8221; kejar Andi.<br />
&#8220;Saudaraku.. .., hidup ini hanya sekali. Dan aku ingin hidup yang cuma sekali ini berarti untuk bekalku setelah mati. Maka sudah beberapa lama ini aku membawa taksi agar aku bisa mencari tambahan penghasilan dan kemudian aku sedekahkan kepada mereka yang membutuhkan. &#8221; jelas sang sopir.</p>
<p>Degg&#8230;! kalimat itu terasa bagai kilat menyambar di hati Andi. Betapa hebat niat sopir taksi itu gumamnya. Tak pernah dengan kekayaan yang dimiliki, Andi bercita-cita mulia seperti itu. Tak berani ia meneruskan pembicaraan dengan sopir taksi. Dalam hati Andi bergumam bahwa seluruh harta yang ia cari rupanya belum apa-apa, dibandingkan kekayaan hati yang dimiliki penduduk muslim miskin di Maroko dan supir taksi shalih yang ia temui di Cairo, Mesir ini.<br />
&#8220;Rupanya inilah kekayaan yang hakiki!&#8221; gumam Andi.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda, &#8220;<em>Siapa di antara kalian di waktu pagi ia merasa aman rumah tangganya, sehat badannya, dan mempunyai persediaan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah ia telah mendapatkan kebahagiaan dunia dengan semua kesempurnaannya.</em>&#8220;<strong> HR. Tirmidzi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/kekayaan-yang-hakiki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Iblis Membentangkan Sejadah</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/ketika-iblis-membentangkan-sejadah/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/ketika-iblis-membentangkan-sejadah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 06:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[sudut pandang Islam]]></category>
		<category><![CDATA[iblis]]></category>
		<category><![CDATA[sajadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Siang menjelang zuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu hari Jumaat, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada di dalam Masjid. Ia nampak begitu khusyuk.
Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk &#038; masuk dari segala penjuru, melalui jendela, pintu, ventilation atau masuk melalui lubang pembuangan air. Pada setiap orang, Iblis juga masuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang menjelang zuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu hari Jumaat, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada di dalam Masjid. Ia nampak begitu khusyuk.</p>
<p>Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk &#038; masuk dari segala penjuru, melalui jendela, pintu, ventilation atau masuk melalui lubang pembuangan air. Pada setiap orang, Iblis juga masuk melalui telinga, ke dalam saraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jemaah yang hadir. Iblis juga melekat di setiap sejadah.<br />
<span id="more-86"></span><br />
&#8220;Hai, Blis!&#8221;, Kiyai berseru, ketika baru masuk ke Masjid itu.</p>
<p>Iblis merasa terusik : &#8220;Kau kerjakan saja tugasmu, Kiyai. Tidak perlu kau melarang saya. Ini hak saya untuk mengganggu setiap orang dalam Masjid ini!&#8221;, jawab Iblis marah.</p>
<p>Ini rumah Tuhan, Iblis! Tempat yang suci, kalau kau mahu mengganggu, kau lakukan diluar nanti!&#8221;, Kiyai coba mengusir.</p>
<p>&#8220;Kiyai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru&#8221;.</p>
<p>Kiyai termangu.</p>
<p>&#8220;Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengan apa?&#8221; tanya Kiyai.</p>
<p>&#8220;Dengan sejadah!&#8221; jawab Iblis</p>
<p>&#8220;Apa yang dapat kau lakukan dengan sejadah, Blis?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sejadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah yang sedikit, demi keuntungan besar!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru, Blis?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan itu saja Kiyai&#8230;&#8221; tukas Iblis.</p>
<p>&#8220;Lalu?&#8221; Jawab Kiyai.</p>
<p>Iblis menjawab, &#8220;Saya juga akan masuk pada setiap designer sejadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para designer itu membuat sejadah yang lebar-lebar&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk apa?&#8221; tukas Kiai.</p>
<p>&#8220;Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiyai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sejadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya dapat ikut membentangkan sejadah&#8221;. jawab Iblis dengan yakin.</p>
<p>Dialog Iblis dan Kiyai terputus seketika.</p>
<p>Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sejadah. Keduanya berdampingan. Salah seorang memiliki sejadah yang lebar. Sementara yang seorang lagi, sejadahnya lebih kecil.</p>
<p>Orang yang punya sejadah lebar tanpa melihat kiri kanan terus sahaja membentangkan sejadahnya. Sementara, orang yang mempunyai sejadah lebih kecil, tidak sedap hati jika harus mendesak jemaah lain yang sudah terlebih dahulu datang.</p>
<p>Tanpa berfikir panjang, pemilik sejadah kecil membentangkan saja sejadahnya, sehingga sebahagian sejadah yang lebar tertutup sepertiganya. Kemudian keduanya melakukan sholat sunnah.</p>
<p>&#8220;Nah, lihat itu Kiyai!&#8221;, Iblis memulai dialog lagi.</p>
<p>&#8220;Yang mana?&#8221; Kiyai menjawab.</p>
<p>&#8220;Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka mempunyai sejadah yang berbeza ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka&#8221;. Seru Iblis yang kemudian lenyap.</p>
<p>Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf. Kiyai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunnah. Kiyai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya.</p>
<p>Pemilik sejadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sambil bangun dari sujud, dia membuka sejadahya yang tertindih, lalu meletakkan sejadahnya di atas sejadah yang kecil.</p>
<p>Hingga sejadah yang kecil kembali berada di bawahnya.</p>
<p>Dia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sejadah yang lebih kecil, melakukan perkara yang serupa.</p>
<p>Dia juga membuka sejadahnya, kerana sejadahnya ditindih oleh sejadah yang lebar.</p>
<p>Keadaan ini berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada ketika sholat wajib juga, kejadian-kejadian seperti ini beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, daripada menerima di bawah. Di atas sejadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya.</p>
<p>Siapa yang memiliki sejadah lebar, maka, ia akan meletakkan sejadahnya diatas sajadah yang kecil.</p>
<p>Sejadah sudah dijadikan Iblis sebagai perbedaan kelas. Pemilik sejadah lebar, diindentitikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain.</p>
<p>Dan pemilik sejadah kecil, adalah kelas bawahan yang setiap saat akan selalu menjadi subordinate dari orang yang berkuasa. Di atas sejadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.</p>
<p>&#8220;Astaghfirullahal adziiiim&#8221;, ujar sang Kiyai perlahan.</p>
<p>Wallahu&#8217;alam Bisshawab</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/ketika-iblis-membentangkan-sejadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pernik Rumah Tangga</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/pernik-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/pernik-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 00:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[sudut pandang Islam]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Usai shalat fardhu ashar berjamaah, ia datang menghampiri saya. Sebagaimana yang telah kami sepakati untuk berjumpa di mesjid Saqar Quraisy di Hay &#8216;Asyir. Wajahnya terlihat sendu dan lesu. Sepertinya ada beban berat yang tengah menghimpit jiwanya.
Air matanya berderai dan tangisnyapun tumpah. Ia tak sanggup lagi menahan gejolak perasaan yang ada dalam hatinya. Ia sangat mencintai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Usai shalat fardhu ashar berjamaah, ia datang menghampiri saya. Sebagaimana yang telah kami sepakati untuk berjumpa di mesjid Saqar Quraisy di Hay &#8216;Asyir. Wajahnya terlihat sendu dan lesu. Sepertinya ada beban berat yang tengah menghimpit jiwanya.</p>
<p>Air matanya berderai dan tangisnyapun tumpah. Ia tak sanggup lagi menahan gejolak perasaan yang ada dalam hatinya. Ia sangat mencintai istri dan kedua orang anaknya. Ia tak ingin pernikahannya berakhir dengan perceraian. Namun ia masih bingung mencari solusi yang tepat atas permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan istrinya. Ia berkata, &#8220;Akhi, saya tidak tahu harus berbuat apa, kami sering cekcok karena hanya permasalahan sepele, sayapun kadang tak betah dirumah, namun untuk bermalam diluar rumah, bagi saya hal itu tak akan mungkin saya lakukan&#8221;.<br />
<span id="more-62"></span><br />
Saya berusaha menenangkan hatinya dan mencoba memberinya secercah harapan dan optimisme dan saya menyarankan padanya untuk melakukan tiga hal. Pertama, setiap hari bangun pada waktu malam untuk shalat tahajud dengan istri, menumpahkan seluruh perasaan pada Allah Swt. Zat yang maha tahu dan maha mendengar. Kedua,  setiap hari membaca al-Qur&#8217;an pada waktu pagi, sore dan malam dengan istri dan setelahnya melakukan introspeksi diri tanpa saling menyalahkan dan ketiga, saya memintanya banyak berdoa untuk kebaikan istri dan keutuhan keluarganya pada saat-saat yang mustajab. Dan setelah itu saya memintanya untuk bertemu kembali satu minggu kemudian.</p>
<p>Satu minggu berlalu,  kami berjumpa di mesjid As Salam, Bawwabah Ula, setelah shalat jum&#8217;at. Ia datang dengan senyum yang mengembang. Wajahnya bersinar. Setelah bersalaman iapun memeluk saya penuh erat dan berucap, &#8220;Akhi, jazakallahu khairan, qad aslah-Allahu baini wa baina zaujati, wal-an nahnu fis sa&#8217;adah was sakinah wal mawaddah war rahmah&#8221;.</p>
<p>Hati saya pun turut berbahagia mendengarnya, &#8220;Semoga Allah Swt. selalu menjaga keutuhan keluarga akhi Farhan&#8221;, ucap saya dengan penuh harap dan iapun mengamininya.</p>
<p>Sepenggal kisah ilustrasi diatas menggambarkan pada kita bahwa kehidupan rumah tangga tidak selamanya bahagia. Tidak selamanya senyum tawa, riang gembira mengisi kebersamaan seorang suami dengan istri.</p>
<p>Adakalanya deraian tangis air mata harus tertumpah, adakalanya  ketidak puasan terhadap pasangan masing-masing tarasa di hati. Ibarat roda kehidupan, kadang di atas dan kadang dibawah, begitu juga yang terjadi pada kehidupan rumah tangga. Ada pasang dan surutnya.</p>
<p>Hal seperti ini wajar terjadi, karena menikah merupakan penyatuan dua wujud manusia yang  berbeda dari segi watak, sikap dan karakter.</p>
<p>Pada awal pernikahan biasanya  konflik sangat jarang terjadi, seperti kapal yang baru memulai pelayarannya mengarungi samudra yang luas. Kedua pasangan berusaha untuk menutupi kekurangan mereka dari yang lain. Satu sama lain berupaya memberikan pelayanan terbaik pada pasangannya. Terkadang menonjolkan diri dan melebih-lebihkan hal yang mestinya wajar.</p>
<p>Namun seiring dengan berjalannya waktu, semakin jauh jarak yang ditempuh, maka satu persatu terlihatlah hal-hal yang kurang disukai dari pasangan. Sebahagian pasangan bisa menyikapi perbedaan-perbedaan yang terjadi diantara mereka dengan arif dan bijaksana. Mereka tidak mudah terprovokasi dengan adanya perbedaan tersebut, bahkan ia bisa menjadi peluang amal kebaikan. Hal ini terwujud karena satu sama lain selalu berlapang hati dan menerima pasangan masing-masing dengan ikhlas. Mereka tidak mengedepankan sikap egois dan emosi, tapi dengan fikiran yang jernih dan hati yang bersih mereka berusaha untuk mencari titik temu dan persamaan hingga terwujudlah sebuah rumah tangga bahagia dan menentramkan.</p>
<p>Dan sebahagian yang lain, adanya perbedaan membuka ruang masalah baru bagi mereka. Satu sama lain tidak mau mengalah dan berusaha ingin menang sendiri. Hingga rumah menjadi tempat yang tidak menyenangkan. Karena pertikaian selalu terjadi.  Suami merasa tidak betah dirumah, ia lebih suka berada diluar rumah dan pulang larut malam.</p>
<p>Pada intinya semua masalah akan bisa terselesaikan bila kedua belah pihak ada keinginan yang jujur untuk memperbaiki diri, menyadari kalau telah berlaku salah dan mudah memberikan maaf pada yang lain. Kembali pada hati, hati yang dibina dengan taqwa, keimanan dan selalu dilatih dengan amalan akan cenderung pada kebaikan. Namun bila hati diberikan pada hawa nafsu dan syetan, ia akan sulit untuk menerima kebenaran, apalagi nafsu yang cenderung selalu ingin merasa benar.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p><em>(Untuk bidadariku, &#8220;Thank`s atas cinta dan rumah yang menentramkan. I love you so much and forever.&#8221;)</em></p>
<p>Cairo,  2008</p>
<p>Arif Salman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/pernik-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>La Tahzan (Don&#8217;t be Sad)</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/la-tahzan-dont-be-sad/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/la-tahzan-dont-be-sad/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 22:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[sudut pandang Islam]]></category>
		<category><![CDATA[jangan bersedih]]></category>
		<category><![CDATA[la tahzan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Judul di atas tertempel di meja kerja seorang teman. Wajahnya cerah menyimpan genangan air keikhlasan. Tatapan matanya berbinar seakan tak ada rasa letih menghadapi gelombang kehidupan. Senyuman menghiasi dan membuktikan dia adalah orang yang menyenangkan.
Aku terheran-heran, hadirku ke dia karena kabar ujian hidup yang besar. Istrinya stroke, sebelah badannya lumpuh, anak pertamanya lahir cacat dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul di atas tertempel di meja kerja seorang teman. Wajahnya cerah menyimpan genangan air keikhlasan. Tatapan matanya berbinar seakan tak ada rasa letih menghadapi gelombang kehidupan. Senyuman menghiasi dan membuktikan dia adalah orang yang menyenangkan.</p>
<p>Aku terheran-heran, hadirku ke dia karena kabar ujian hidup yang besar. Istrinya stroke, sebelah badannya lumpuh, anak pertamanya lahir cacat dengan kaki mengecil sebelah dan jalannya harus ditopang kruk. Tiga anaknya yang lain terserang hepatitis sehingga pertumbuhannya terhambat dan bayinya yang masih merah harus menjalani terapi biru (penyinaran fototerapi dengan lampu biru) karena terindikasi adanya penumpukan bilirubin (bayi kuning).<br />
<span id="more-22"></span><br />
Namun semua tak membuat dia sedih,&#8221;Kenapa kamu tidak sedikitpun nampak sedih, padahal ujian berat sedang menimpa ?&#8221; tanyaku. Dengan tersenyum dia menjawab,&#8221;Saya manusia biasa tak luput dari rasa<br />
sedih, tapi kesedihan bukan penyelesai masalah, maka aku tulis &#8216;La Tahzan&#8217; dan tambahan Don&#8217;t be Sad dari istriku agar aku tidak larut dengan kesedihan dalam menghadapi ujian&#8221;.</p>
<p>Kejadian diatas mengingatkan saya pada sebuah kitab yang dikarang oleh Dr. Aidh Al-Qarni yang berjudul La Tahzan yang tarjimnya diterbitkan oleh Qisthi press. Pada kitab tersebut diurai berbagai ujian yang menimpa manusia dan diberikan solusi agar tidak bersedih menghadapi semua ujian tersebut. Pada salah satu bahasannya memberikan resep agar tidak bersedih yaitu :</p>
<p>1) Percaya sepenuhnya kepada Allah.<br />
2) Kesadaran bahwa semua yang telah Allah takdirkan akan terjadi.<br />
3) Sabar adalah senjata paling ampuh yang dipergunakan oleh orang yang mendapat ujian.<br />
4) Jika tidak sabar lalu apa yang bisa dilakukan. Dan tidak akan terbantu hanya dengan perasaan resah.<br />
5) Mungkin saja akan berada dalam kondisi yang lebih jelek daripada kondisi saat ini.<br />
6) Dari waktu ke waktu jalan keluar akan selalu terbuka.</p>
<p>Memang dengan menerapkan resep diatas secara ruhiyah akan terlapangkan diri ini dari heterogenitas problem kehidupan. Meletakkan setiap permasalahan pada porsi jiwa yang benar adalah obat mujarab untuk membuang rasa sedih gundah gulana. Pelajaran agar perilaku hidup yang gampang larut dalam duka terkikis habis oleh sifat sabar dan selalu memandang hari &#8216;tomorrow will be better&#8217;. La Tahzan, sabar dan optimisme bahwa setiap problem pasti ada jalan keluarnya, setiap penyakit ada obatnya.</p>
<p>Selanjutnya marilah kita renungkan kiat-kiat bahagia yang disarikan oleh seorang Doktor hadits yang hafizh ini :</p>
<p>Sadarilah bahwa jika Anda hidup hanya dalam batasan hari ini saja, maka akan terpecahlah pikiran Anda, akan kacau semua urusan, dan akan semakin menggunung kesedihan dan kegundahan diri Anda. Inilah makna sabda Rasulullah SAW &#8221;Jika pagi tiba, janganlah menunggu sore, dan jika sore tiba, janganlah menunggu hingga waktu pagi&#8221;. Lupakan masa lalu dan semua yang pernah terjadi, karena perhatian yang terpaku pada yang telah lewat dan selesai merupakan kebodohan dan kegilaan. Jangan menyibukkan diri dengan masa depan, sebab ia masih berada di alam ghaib. Jangan mudah tergoncang oleh kritikan. Jadilah orang yang teguh pendirian, dan sadarilah bahwa kritikan itu akan mengangkat harga diri Anda setara dengan kritikan tersebut. Beriman kepada Allah, dan beramal shaleh adalah kehidupan yang baik dan bahagia.</p>
<p>Barangsiapa menginginkan ketenangan, keteduhan, dan kesenangan maka dia harus berdzikir kepada Allah. Persiapkan diri Anda untuk menerima kemungkinan terburuk. Berfikirlah tentang nikmat, lalu bersyukurlah. Anda dengan semua yang ada pada diri Anda sudah lebih banyak daripada yang dimiliki orang lain. Dari waktu ke waktu selalu ada jalan keluar. Dengan musibah hati akan tergerak untuk berdo&#8217;a. Musibah itu akan menajamkan nurani dan menguatkan hati. Sesungguhnya setelah kesulitan itu akan ada kemudahan. Jangan pernah hancur hanya karena perkara-perkara yang sepele. Jangan marah, jangan marah, jangan marah !!.</p>
<p>&#8220;..dan langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu&#8221; (QS Adz-Dzariyat:22).</p>
<p>Kebanyakan yang anda takutkan tidak pernah terjadi. Pada orang-orang yang ditimpa musibah itu ada suri tauladan. Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan memberikan cobaan atas mereka. Anda harus melakukan perbuatan yang baik dan membuahkan dan tinggalkan kekosongan. Tinggalkan semua kasak-kusuk, dan jangan percaya kepada kabar burung. Kedengkian dan keinginan Anda yang kuat untuk membalas dendam itu hanya akan membahayakan Anda sendiri, lebih besar daripada bahaya yang menimpa pihak lawan. Semua musibah yang menimpa diri Anda adalah penghapus dosa-dosa.</p>
<p>Hidup memang tidak untuk larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Hidup juga bukan media untuk memuja-muja kegembiran, semua telah diatur berdasarkan regulasi langit yang menjadi hak absolute dari Sang Pencipta. Sebagai mahluk, manusia dibekali dengan apa yang disebut rasa, ada rasa sedih, ada rasa gembira, ada rasa takut, ada rasa gembira, dan berbagai rasa lainnya. Kini yang dituntut adalah bagaimana mampu memanage rasa itu untuk stabil berada dalam ketentuan Tuhan. Maka sungguh berartinya tulisan &#8216;La Tahzan (Don&#8217;t be Sad) itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/la-tahzan-dont-be-sad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Cicak</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/belajar-dari-cicak/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/belajar-dari-cicak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 20:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[sudut pandang Islam]]></category>
		<category><![CDATA[cicak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Anda tahu cicak? Tentu saja tahu, hampir disetiap rumah ada cicak. Cicak punya keistimewaan bisa berjalan di atap dengan badan terbalik, tetapi bukan itu yang ingin saya lihat pada saat ini, justru yang akan kita lihat adalah &#8220;kelemahan&#8221; cicak yang tidak bisa terbang, sementara makanan cicak bisa terbang.
Dari sini bisa kita ambil pelajaran, meskipun cicak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tahu cicak? Tentu saja tahu, hampir disetiap rumah ada cicak. Cicak punya keistimewaan bisa berjalan di atap dengan badan terbalik, tetapi bukan itu yang ingin saya lihat pada saat ini, justru yang akan kita lihat adalah &#8220;kelemahan&#8221; cicak yang tidak bisa terbang, sementara makanan cicak bisa terbang.</p>
<p>Dari sini bisa kita ambil pelajaran, meskipun cicak tidak bisa terbang tetapi mereka masih bisa memakan nyamuk. Itu menunjukan bahwa cicak sudah di atur rezekinya oleh Allah.<br />
<span id="more-12"></span></p>
<p><img class="aligncenter" title="Cicak" src="http://i44.photobucket.com/albums/f5/rumahfrandi/mutiara/cicak.jpg" alt="" width="320" height="167" /></p>
<blockquote><p>Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhil mahfuz). [QS 11:6]</p></blockquote>
<p>Begitu juga manusia dan makhluq yang lainnya. Allah telah menetapkan rizkinya masing-masing.</p>
<blockquote><p>Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. [QS 14:32]</p></blockquote>
<p>Rezeki adalah pemberian Allah, bukan dari tempat Anda bekerja sekarang, bukan dari bisnis Anda, bukan dari deposito Anda. Semua itu hanyalah sarana Anda mendapatkan rezeki, karena memang Allah yang memerintahkan kita untuk mencari rezeki tentu saja dengan berbagai sarana.</p>
<p>Yakinlah akan rezeki Allah, jangan yakin dengan rezeki yang sekarang Anda dapatkan ditempat Anda bekerja sekarang ini. Mungkin saja ditempat lain rezeki Anda sudah menunggu. Tidak ada jaminan Anda akan mendapatkan rezeki dari tempat sekarang terus-menerus, karena bukan perusahaan Anda yang meluaskan dan menyempitkan rezeki Anda, tetapi Allah.</p>
<blockquote><p>Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. [QS 17:30]</p></blockquote>
<p>Seberapa besarnya gaji Anda, jika Allah telah menetapkan bahwa itu bukan rezeki Anda, maka itu mudah bagi Allah. Mungkin saja rezeki itu menjadi rezeki dokter yang mengobati penyakit Anda. Mungkin saja semua gaji Anda ludes dirampok, dan berbagai kemungkinan lainnya. Bahkan makanan yang tinggal beberapa senti kemulut Anda masih bisa jatuh menjadi rezekinya semut.</p>
<p>Meskipun rezeki sudah di atur oleh Allah, tetapi kita tetap dituntut untuk berusaha sendiri. Cicakpun berusaha, mendekati tempat terang dimana di sana banyak nyamuk.</p>
<blockquote><p>&#8230;..sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, [QS 8.53]</p></blockquote>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishawab</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/sudut-pandang-islam/belajar-dari-cicak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
