<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mutiara &#187; moral story</title>
	<atom:link href="http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/category/moral-story/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara</link>
	<description>Tak lekang oleh waktu</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Aug 2009 08:30:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Anak Kecil 6 Tahun Merawat Papanya Yang Lumpuh</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/anak-kecil-6-tahun-merawat-papanya-yang-lumpuh/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/anak-kecil-6-tahun-merawat-papanya-yang-lumpuh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 08:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[moral story]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Merawat Papa]]></category>
		<category><![CDATA[tse tse]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[(Dajiyuan, 17 Des) Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang baru berumur 6 tahun ini terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan memberi makan, dia masih bersama ibunya mengambil botol air mineral bekas sebagai tambahan pendapatan keluarga. Cerita Tse Tse ini banyak menyentuh hati teman di internet, hanya beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Dajiyuan, 17 Des) Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang baru berumur 6 tahun ini terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan memberi makan, dia masih bersama ibunya mengambil botol air mineral bekas sebagai tambahan pendapatan keluarga. Cerita Tse Tse ini banyak menyentuh hati teman di internet, hanya beberapa jam, sudah puluhan ribu orang yang mengkliknya.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img alt="Tse Tse kecil sedang menyuapi papanya yang lumpuh" src="http://i44.photobucket.com/albums/f5/rumahfrandi/mutiara/ATT11714.jpg" title="Tse Tse kecil sedang menyuapi papanya yang lumpuh" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Tse Tse kecil sedang menyuapi papanya yang lumpuh</p></div>
<p><span id="more-154"></span><br />
<strong>Adegan yang mengharukan.</strong></p>
<p>Begitu sampai di rumah, Tse Tse langsung sibuk menyiapkan seember air, lantas dengan tangannya yang mungil ia memeras selembar handuk yang besar, karena handuk terlalu besar buat dia, Tse Tse membutuhkan 3 sampai 4 menit baru bisa mengeringkannya, kemudian dengan handuk itu dia menyeka wajah ayahnya dengan lap itu. Dia sangat teliti melapnya, sepertinya khawatir kurang bersih. Setelah selesai, Tse Tse kemudian berjingkat melap punggung ayahnya, di belakang, selesai semua, dengan puas dia tersenyum ke ayahnya.</p>
<p>Tse Tse tahun ini berumur 6 tahun, baru kelas 1 SD, tinggal di jalan Baoan, desa Nantong, papanya Xiong Chun pada 5 tahun lalu tiba-tiba menderita otot menyusut, di bawah leher semua lumpuh, untuk mengobati penyakitnya dia telah menghabiskan semua tabungannya. Sekarang, keluarga yang beranggotakan 3 orang ini hanya mengandalkan ibunya yang bekerja di pabrik, dengan penghasilan kecil itulah mereka bertahan hidup.</p>
<p>Di sekolah Houde, anak yang seumur dengannya dengan ceria bergandeng tangan dengan orang tuanya sambil berjalan, namun Tse Tse malah harus sekuat tenaga mendorong ayahnya pulang. Ketika mau menyeberang jalan, dia akan berhenti sejenak, menoleh kendaraan yang lalu lalang, setelah aman dia baru menyeberang. Setiap ketemu tempat yang tidak rata, Tse Tse harus mengeluarkan tenaga ekstra menaikkan roda depan, menarik kursi roda itu dari belakang, wajahnya yang mungil sampai terlihat kemerahan. Dari sekolah sampai rumah jaraknya sekitar 1.500 meter, harus ditempuh selama 20 menit.</p>
<p><strong>Satu keluarga 3 orang menempati rumah 8 m2</strong></p>
<p>Rumah Tse Tse adalah sebuah rumah dengan kamar kecil se ukuran 8m2, hanya besi seng menutupi atap yang menghalangi cahaya masuk ke kamar, di atap tergantung sebuah lampu energi kecil. Dalam rumah penuh debu, yang paling mencolok adalah penghargaan Tse Tse yang tergantung di dinding. Terhadap sekeluarga yang pendapatan bulanannya hanya sekitar 1.000 RMB (Rp.1,5 juta) bisa dikatakan, sebuah TV 21&#8243; sudah merupakan barang mewah. </p>
<p>Sebuah ranjang atas dan bawah sudah memenuhi seluruh kamar, di atasnya penuh dengan barang pecah belah, hanya tersisa sedikit ruang kecil. Xiong Chun berkata, itu adalah ranjang Tse Tse. Sebuah meja lipat tergantung di dinding, itu adalah meja belajar Tse Tse, juga adalah meja makan keluarga.</p>
<p>Di samping pintu yang luasnya tidak sampai 1 m2, ada &#8220;dapur&#8221; yang dibuatnya sendiri, di samping kompor masih tersisa sebatang kubis. &#8220;Makanan dan minyak di rumah semua diberikan oleh teman mamanya, satu hari tiga kali makan, Cuma makan malam yang agak lumayan, di rumah jarang makan daging, namun setiap minggu mereka akan mengeluarkan sedikit biaya untuk mengubah kehidupan anaknya, namun setiap kali makan, Tse Tse akan membiarkan saya makan dulu, baru dia makan.&#8221; Kata Xiong Chun.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img alt="Tangan mungil Tse Tse sedang memijat kaki papanya." src="http://i44.photobucket.com/albums/f5/rumahfrandi/mutiara/ATT11715.jpg" title="Tangan mungil Tse Tse sedang memijat kaki papanya." width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Tangan mungil Tse Tse sedang memijat kaki papanya.</p></div>
<p><strong>Setiap hari memijat papanya 3 kali </strong></p>
<p>Mama Tse Tse bekerja di pabrik, setiap siang hari dia akan menyisakan sedikit waktu pulang ke rumah menanak nasi untuk suaminya, setelah menyuapi dia segera balik ke pabrik bekerja, tanggung jawab merawat suaminya semua di bebankan ke pundak Tse Tse.</p>
<p>Xiong Chun memberitahu wartawan, “setiap pagi jam 6.30 begitu jam alarm berbunyi, Tse Tse akan bangun, cuci muka dan sikat gigi, dia juga membantu papanya mencuci muka, selesai itu dia akan memijat tangan dan kaki papanya, kira-kira 10 menit. Pulang sekolah sore, dia akan memijat papanya lagi, malam setelah memandikan papanya, dia akan memijat papanya lagi, baru tidur. Agar bisa lebih banyak membantu mamanya, Tse Tse kadang-kadang ikut mamanya memungut barang bekas untuk menambah penghasilan keluarga.”</p>
<p>Xiong Chun sangat sayang anaknya. Tetangga di sekeliling sangat terharu dan mengatakan:  “Tse Tse sangat mengerti. Kita semua merasa bangga ada anak seperti ini.”  </p>
<p><strong>Boneka 5 Yuan yang paling disukainya</strong></p>
<p>Mama membawa dia memungut botol air bekas untuk menambah penghasilan. Suatu ketika, Tse Tse memungut satu mainan mobil plastik bekas di tempat sampah, dia bagaikan mendapat barang pusaka, setiap hari akan main sebentar dengan mobil plastiknya itu. Yang Xianfui berkata, kemarin mama dan anak pergi memungut besi bekas, bisa dijual 20 Yuan. </p>
<p>Tse Tse punya satu boneka kecil yang lucu, itu yang paling disayanginya. Malam hari juga mengendongnya tidur. “Dia melihat boneka itu di toko, beberapa kali dia memintanya, 5 Yuan, saya tidak tega terus, akhirnya saya nekat membelikannya,” Kata Xiong Chun.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 218px"><img alt="Tse Tse dengan tekun merawat papanya." src="http://i44.photobucket.com/albums/f5/rumahfrandi/mutiara/ATT11716.jpg" title="Tse Tse dengan tekun merawat papanya." width="208" height="300" /><p class="wp-caption-text">Tse Tse dengan tekun merawat papanya.</p></div>
<p><strong>Begitu Tidak Boleh Sekolah, Langsung Menangis</strong></p>
<p>Untuk mengirit biaya listrik,setiap hari begitu pulang sekolah Tse Tse akan memindahkan &#8220;Meja kecilnya&#8221; keluar, mengejar siang hari menyelesaikan PR-nya.</p>
<p>“Uang sekolahnya setahun sekitar 3.000 sampai 4.000, kami tidak sanggup. Karena tidak ada uang, tahun ini saya juga melepaskan berobat lagi,” kata Xiong Chun. Beberapa waktu yang lalu, dia berbicara dengan istrinya agar Tse Tse berhenti sekolah saja, Tse Tse begitu tahu langsung menangis.</p>
<p>Xiong Chun berteriak, “Hidup normal saja bermasalah, masih harus kasih dia sekolah, sungguh susah, bila sudah tidak mungkin, biar dia berhenti saja.” Tse Tse yang sedang bermain boneka, begitu mendengar kata papanya, langsung menangis. Xiong Chun menarik Tse Tse ke sisinya, membujuk: “Papa akan usahakan kamu sekolah, biar kamu bisa sekolah!” Setelah dibujuk beberapa kali, Tse Tse baru berhenti menangis, dengan tangan mungilnya dia menyeka air matanya.  </p>
<p>“Terhadap Tse Tse, saya sungguh menyesal&#8230;..,” sambil menangis tersedu, Xiong Chun sudah tidak dapat berkata lagi. Xiong Chun berkata: “Saya percaya pasti akan sembuh, Tse Tse adalah harapan saya.” (dajiyuan.com/lim)</p>
<p><strong>So..<br />
Sudahkah kita menyayangi orangtua kita dengan tulus seperti Tse Tse?<br />
Apakah kita masih suka mengeluh atau mencari2 alasan saat dimintai tolong sama ortu kita?</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/anak-kecil-6-tahun-merawat-papanya-yang-lumpuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekarung Padi</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/sekarung-padi/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/sekarung-padi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 07:02:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[moral story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Dua bersaudara bekerja bersama-sama di ladang milik keluarga mereka. Yang seorang telah menikah dan
memiliki sebuah keluarga besar. Yang lainnya masih lajang. Ketika hari mulai senja, kedua bersaudara itu
membagi sama rata hasil yang mereka peroleh.
Pada suatu hari, saudara yang masih lajang itu berpikir, &#8220;Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua bersaudara bekerja bersama-sama di ladang milik keluarga mereka. Yang seorang telah menikah dan<br />
memiliki sebuah keluarga besar. Yang lainnya masih lajang. Ketika hari mulai senja, kedua bersaudara itu<br />
membagi sama rata hasil yang mereka peroleh.</p>
<p>Pada suatu hari, saudara yang masih lajang itu berpikir, &#8220;Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit.&#8221; Karena itu, setiap malam ia mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudaranya.<br />
<span id="more-152"></span><br />
Sementara itu, saudara yang telah menikah itu berpikir dalam hatinya, &#8220;Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan merawatku di masa tua nanti, sedangkan saudaraku tidak memiliki siapa pun dan tidak seorang pun akan peduli padanya pada masa tuanya.&#8221; </p>
<p>Karena itu, setiap malam ia pun mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudara satu-satunya itu. </p>
<p>Selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu menyimpan rahasia itu masing-masing, sementara padi mereka<br />
sesungguhnya tidak pernah berkurang, hingga suatu malam keduanya bertemu, dan barulah saat itu mereka<br />
tahu apa yang telah terjadi. Mereka pun berpelukan. </p>
<p>Jangan biarkan persaudaraan rusak karena harta, justru pereratlah persaudaraan tanpa memusingkan harta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/sekarung-padi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Simple Friend vs. A Real Friend</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/a-simple-friend-vs-a-real-friend/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/a-simple-friend-vs-a-real-friend/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[moral story]]></category>
		<category><![CDATA[friends]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[A simple friend, when visiting, acts like a guest.
A real friend opens your refrigerator and helps himself and doesn&#8217;t feel even the least bit weird shutting your &#8216;beer/Pepsi drawer&#8217; with her foot!  
A simple friend has never seen you cry.
A real friend shoulder is soggy from your tears..
A simple friend doesn&#8217;t know your parents&#8217; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A simple friend, when visiting, acts like a guest.<br />
A real friend opens your refrigerator and helps himself and doesn&#8217;t feel even the least bit weird shutting your &#8216;beer/Pepsi drawer&#8217; with her foot!  </p>
<p>A simple friend has never seen you cry.<br />
A real friend shoulder is soggy from your tears..</p>
<p>A simple friend doesn&#8217;t know your parents&#8217; first names.<br />
A real friend has their phone numbers in his address book.</p>
<p>A simple friend brings a bottle of wine to your party.<br />
A real friend comes early to help you cook and stays late to help you clean.<br />
<span id="more-144"></span><br />
A simple friend hates it when you call after they&#8217;ve gone to bed.<br />
A real friend asks you why you took so long to call.</p>
<p>A simple friend seeks to talk with you about your problems.<br />
A real friend seeks to help you with your problems.</p>
<p>A simple friend wonders about your romantic history.<br />
A real friend could blackmail you with it!</p>
<p>A simple friend thinks the friendship is over when you have an argument.<br />
A real friend calls you after you had a fight.</p>
<p>A  simple friend expects you to always be there for them.<br />
A real friend expects to always be there for you!</p>
<p>A simple friend reads this e-mail and deletes it.<br />
A real friend passes it on and sends it back to  you!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/a-simple-friend-vs-a-real-friend/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu malaikat untukmu</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/satu-malaikat-untukmu/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/satu-malaikat-untukmu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 08:02:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[moral story]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan : &#8220;Para malaikat disini mengatakan bahawa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah&#8221;?
Dan Tuhan menjawab, &#8220;Saya telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu.&#8221;
&#8220;Tapi disini, di dalam syurga, apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan : &#8220;Para malaikat disini mengatakan bahawa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah&#8221;?</p>
<p>Dan Tuhan menjawab, &#8220;Saya telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi disini, di dalam syurga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk berbahagia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia.&#8221;<br />
<span id="more-142"></span><br />
&#8220;Dan bagaimana saya boleh mengerti saat orang-orang bercakap kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Malaikatmu akan bercakap kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang pernah kamu dengar; dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia akan mengajarkan bagaimana cara kamu bercakap.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya mendengar bahawa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal tersebut mungkin dapat mengancam jiwanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, saya pasti akan merasa sedih kerana tidak melihatMu lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu boleh kembali kepadaKu, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu.&#8221;</p>
<p>Saat itu Syurga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar, dan sang anak bertanya perlahan, &#8220;Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bolehkah Kamu memberitahuku nama malaikat tersebut ?</p>
<p>&#8220;Kamu akan memanggil malaikatmu, Ibu.&#8221;</p>
<p>Ingatlah selalu kasih sayang ibu, berdoalah untuknya dan cintailah dia sepanjang masa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/satu-malaikat-untukmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan mudah menyerah</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/jangan-mudah-menyerah/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/jangan-mudah-menyerah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 07:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[moral story]]></category>
		<category><![CDATA[cadel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[*Hari 1.*
Seorang cadel ingin membeli nasi goreng yang sering mangkal didekat rumahnya.
cadel: &#8220;bang, beli nasi goleng satu&#8221;
abang: &#8220;apa&#8230;?&#8221; (&#8230;..ngeledek.)
cadel: &#8220;Nasi Goleng!
abang: &#8220;Apaan&#8230;?&#8221; (&#8230;..Ngeledek lagi.)
cadel: &#8220;Nasi Goleng!!!&#8221;
abang: &#8220;ohh nasi goleng&#8230;&#8221;
Sambil ditertawakan oleh pembeli yang lain dan pulanglah si cadel dengan sangat kesal, sesampainya di rumah dia bertekad untuk berlatih mengucapkan &#8220;nasi goreng&#8221; dengan benar. Hingga akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>*Hari 1.*</strong></p>
<p>Seorang cadel ingin membeli nasi goreng yang sering mangkal didekat rumahnya.<br />
cadel: &#8220;bang, beli nasi goleng satu&#8221;<br />
abang: &#8220;apa&#8230;?&#8221; (&#8230;..ngeledek.)<br />
cadel: &#8220;Nasi Goleng!<br />
abang: &#8220;Apaan&#8230;?&#8221; (&#8230;..Ngeledek lagi.)<br />
cadel: &#8220;Nasi Goleng!!!&#8221;<br />
abang: &#8220;ohh nasi goleng&#8230;&#8221;</p>
<p>Sambil ditertawakan oleh pembeli yang lain dan pulanglah si cadel dengan sangat kesal, sesampainya di rumah dia bertekad untuk berlatih mengucapkan &#8220;nasi goreng&#8221; dengan benar. Hingga akhirnya dia mampu mengucapkan dengan baik dan benar.<br />
<span id="more-135"></span><br />
<strong>* Hari 2.*</strong></p>
<p>Dengan perasaan bangga, si cadel ingin menunjukkan bahwa dia bisa mengucapkan pesanan dengan tidak cadel lagi.<br />
cadel: &#8220;bang&#8230;,saya mau beli NASI GORENG, bungkus!!!&#8221;<br />
abang: &#8220;ohh&#8230;pake apa?&#8221;<br />
cadel: &#8220;&#8230;pake telol&#8230;&#8221; (Sambil sedih&#8230;)<br />
Akhirnya kembali dia berlatih mengucapkan kata &#8220;telor&#8221; sampai benar.</p>
<p><strong>* Hari 3.*</strong></p>
<p>Untuk menunjukkan bahwa dia mampu, dia rela 3 hari berturut-turut makan nasi goreng<br />
cadel: &#8220;bang&#8230;, beli NASI GORENG, Pake TELOR!!! Bungkus!&#8221;<br />
abang: &#8220;ceplok atau dadar ?&#8221;<br />
cadel: &#8220;dadal&#8230;&#8221;<br />
Dengan spontan. Kembali dia berlatih dengan keras.</p>
<p><strong>* Hari 4.*</strong></p>
<p>Dengan modal 4 hari berlatih lidah hari ini dia yakin mampu memesan dengan tanpa ditertawakan.<br />
cadel: &#8220;bang&#8230;beli NASI GORENG, Pake TELOR, di DADAR!&#8221;<br />
abang: &#8220;hebat kamu &#8216;del, udah nggak cadel lagi nich, harganya Rp.2500, del.&#8221;</p>
<p>si cadel menyerahkan uang Rp.3000 kepada si abang, namun si abang tidak memberikan kembaliannya, hingga si cadel bertanya:<br />
cadel: &#8220;bang.., kembaliannya?&#8221;<br />
abang: &#8220;oh iya, uang kamu Rp.3000, harganya Rp.2500, kembalinya berapa del?&#8221;, sambil senyum ngeledek.<br />
Si cadel gugup juga untuk menjawabnya, dia membayangkan besok bakal makan nasi goreng lagi. Tapi akhirnya dia menjawab:&#8221;&#8230;GOPEK&#8230;!!!&#8221; Sambil tersenyum penuh kemenangan.</p>
<p><strong>* Moral Cerita *:</strong></p>
<p>INTI DALI CELITA INI ADALAH HIDUPLAH TELUS DENGAN PENUH PELJUANGAN !!<br />
JANGAN MENYELAH YACH !!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/jangan-mudah-menyerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Skenario</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/empat-skenario/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/empat-skenario/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 02:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[moral story]]></category>
		<category><![CDATA[handphone]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut.
Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangkan kaki. Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.
Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita.
&#8220;Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,&#8221; kata orang tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Skenario 1</strong></p>
<p>Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut.</p>
<p>Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangkan kaki. Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.</p>
<p>Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita.</p>
<p>&#8220;Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,&#8221; kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.</p>
<p>Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?</p>
<p>Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.<br />
<span id="more-126"></span><br />
<strong>Skenario 2</strong></p>
<p>Sekarang kita beralih kepada skenario kedua. Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.</p>
<p>Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya kepada kita. Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang.</p>
<p>Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita sambil berkata,</p>
<p>&#8220;Pak, handphone bapak barusan jatuh nih.&#8221;</p>
<p>Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?</p>
<p>Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.</p>
<p>Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada kita).</p>
<p>Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.</p>
<p><strong>Skenario 3</strong></p>
<p>Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.</p>
<p>Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun dari kereta.</p>
<p>Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita. </p>
<p>Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya kepada kita) menjawab telepon kita.</p>
<p>&#8220;Halo, selamat siang, Pak. Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang.&#8221;</p>
<p>Kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone itu kembali kepada kita.</p>
<p>Orang yang menemukan handphone kita berkata, &#8220;Oh, ini handphone bapak ya. Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut, biar bapak ambil di sana nanti ya.&#8221;</p>
<p>Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun berikut dan menemui &#8220;orang baik&#8221; tersebut.</p>
<p>Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.</p>
<p>Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?</p>
<p>Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua bukan?</p>
<p>Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone kita tersebut.</p>
<p><strong>Skenario 4</strong></p>
<p>Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.</p>
<p>Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang.</p>
<p>Kita mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.</p>
<p>Sampai akhirnya kita tiba di rumah.</p>
<p>Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS: &#8220;Bapak / Ibu yang budiman, saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak/ibu sekarang. Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak/ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya. Saya akan memberikan imbalan sepantasnya.&#8221;</p>
<p>SMS pun dikirim dan tidak ada balasan. Kita sudah putus asa.</p>
<p>Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone kita.</p>
<p>Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.</p>
<p>Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone tersebut.</p>
<p>Bagaimana kira-kira perasaan kita?</p>
<p>Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu.</p>
<p>Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.</p>
<p>Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?</p>
<p>Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario ketiga).</p>
<p><strong>MORAL</strong></p>
<p>Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?</p>
<p>Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan ada orang yang menemukannya.</p>
<p>Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita. Kita berikan dia ucapan terima kasih.</p>
<p>Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita turun dari kereta. Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.</p>
<p>Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari kereta. Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.</p>
<p>Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada kita. Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.</p>
<p>Ada sebuah hal yang aneh di sini.</p>
<p>Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik?</p>
<p>Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita, bukan? Dia adalah orang pada skenario pertama.</p>
<p>Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara empat orang di atas.</p>
<p>Manakah orang yang paling tidak baik?</p>
<p>Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita tersebut selama itu.</p>
<p>Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.</p>
<p>Apa yang sebenarnya terjadi di sini?</p>
<p>Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, kita berikan lebih sedikit.</p>
<p>OK, kenapa bisa begitu?</p>
<p>Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario.</p>
<p>Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.</p>
<p>Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta.</p>
<p>Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita kembali.</p>
<p>Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.</p>
<p>Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita.</p>
<p>Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai handphone yang kita miliki.</p>
<p>Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?</p>
<p>Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah, kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.</p>
<p>Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman kita. Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.</p>
<p>Saat itulah, kita baru dapat  mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang tersebut.</p>
<p>Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur?</p>
<p>Sebaiknya tidak.</p>
<p>Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih ada.</p>
<p>Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap dari diri kita.</p>
<p>Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.</p>
<p>Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.</p>
<p>Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan. Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/empat-skenario/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pohon Apel</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/pohon-apel/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/pohon-apel/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 06:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[moral story]]></category>
		<category><![CDATA[pohon apel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.</p>
<p>Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.</p>
<p>Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. &#8220;Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,&#8221; pinta pohon apel itu. &#8220;Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,&#8221; jawab anak lelaki itu. &#8220;Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.&#8221;<br />
<span id="more-116"></span><br />
Pohon apel itu menyahut, &#8220;Duh, maaf aku pun tak punya uang&#8230;. tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.&#8221; Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.</p>
<p>Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. &#8220;Ayo bermain-main denganku lagi,&#8221; kata pohon apel. &#8220;Aku tak punya waktu,&#8221; jawab anak lelaki itu. &#8220;Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?&#8221; Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah.</p>
<p>Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,&#8221; kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.</p>
<p>Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. &#8220;Ayo bermain-main lagi denganku,&#8221; kata pohon apel.. &#8220;Aku sedih ,&#8221; kata anak lelaki itu. &#8220;Aku sudah tua dan ingin hidup tenang.. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.&#8221;</p>
<p>Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.</p>
<p>Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. &#8220;Maaf anakku,&#8221; kata pohon apel itu. &#8220;Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.&#8221; &#8220;Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,&#8221; jawab anak lelaki itu.</p>
<p>&#8220;Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat ,&#8221; kata pohon apel. &#8220;Sekarang , aku sudah terlalu tua untuk itu,&#8221; jawab anak lelaki itu. &#8220;Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,&#8221; kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.</p>
<p>&#8220;Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,&#8221; kata anak lelaki.<br />
&#8220;Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.&#8221; &#8220;Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.&#8221; Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.</p>
<p>Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.</p>
<p><strong>Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.</strong></p>
<p><strong>Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/pohon-apel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Window Through Which We Look</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/the-window-through-which-we-look/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/the-window-through-which-we-look/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 09:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[moral story]]></category>
		<category><![CDATA[window]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[A young couple moves into a new neighborhood. The next morning while they are eating breakfast, the young woman sees her neighbor hanging the wash outside.
&#8220;That laundry is not very clean&#8221;, she said.
&#8220;She doesn&#8217;t know how to wash correctly.

Perhaps she needs better laundry soap.&#8221;
Her husband looked on, but remained silent.
Every time her neighbor would hang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" title="Washing clothe" src="http://i44.photobucket.com/albums/f5/rumahfrandi/mutiara/wash.gif" alt="" width="366" height="231" />A young couple moves into a new neighborhood. The next morning while they are eating breakfast, the young woman sees her neighbor hanging the wash outside.</p>
<p>&#8220;That laundry is not very clean&#8221;, she said.<br />
&#8220;She doesn&#8217;t know how to wash correctly.<br />
<span id="more-109"></span><br />
Perhaps she needs better laundry soap.&#8221;<br />
Her husband looked on, but remained silent.</p>
<p>Every time her neighbor would hang her wash to dry, the young woman would make the same comments.</p>
<p>About one month later, the woman was surprised to see a nice clean wash on the line and said to her husband:</p>
<p>&#8220;Look, she has learned how to wash correctly. I wonder who taught her this.&#8221;</p>
<p>The husband said, &#8220;I got up early this morning and cleaned our windows.&#8221;</p>
<p><strong>And so it is with life. What we see when watching others depends on the purity of the window through which we look.</strong></p>
<p>I hope that you have a very great day and catch the many blessings that come your way!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/the-window-through-which-we-look/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Chat Dengan Tuhan</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/chat-dengan-tuhan/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/chat-dengan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 08:39:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[moral story]]></category>
		<category><![CDATA[chat]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Connecting to Heaven &#38; Earth Messenger
Sign in&#8230;.

TUHAN :
Kamu memanggilKu ?
AKU :
Tidak.. Ini siapa?
TUHAN :
Ini TUHAN.
Aku mendengar doamu.
Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
AKU :
Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk .
TUHAN :
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU :
Nggak tau ya.
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Connecting to Heaven &amp; Earth Messenger<br />
Sign in&#8230;.<br />
</strong><br />
<strong>TUHAN :</strong><br />
Kamu memanggilKu ?</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Tidak.. Ini siapa?</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Ini TUHAN.<br />
Aku mendengar doamu.<br />
Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.<br />
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk .</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.<br />
<span id="more-104"></span><br />
<strong>AKU :</strong><br />
Nggak tau ya.<br />
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.<br />
Hidup jadi seperti diburu-buru.<br />
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Benar sekali.<br />
Aktivitas memberimu kesibukan.<br />
Tapi produktivitas memberimu hasil.<br />
Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu..</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Saya mengerti itu.<br />
Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.<br />
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini..</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk.<br />
Di era Internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi misalnya.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Berhentilah menganalisa hidup.<br />
Jalani saja.<br />
Analisalah yang membuatnya jadi rumit.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Hari ini adalah Hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.<br />
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.<br />
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.<br />
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Tapi bagaimana mungkin Kita tidak khawatir jika ada begitu banyak<br />
ketidakpastian.</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.<br />
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Tapi begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Rasa sakit tidak bisa dihindari,<br />
Tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan..<br />
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.<br />
Orang baik tidak dapat melewati rintangan, tanpa menderita.<br />
Dengan pengalaman itu hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Ya.<br />
Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.<br />
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?<br />
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental.<br />
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah&#8230;</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.<br />
Lihatlah ke dalam.<br />
Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga..<br />
Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.<br />
Apa yang dapat saya lakukan?</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.<br />
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.<br />
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.<br />
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Selalulah melihat sudah berapa jauh kamu berjalan, daripada masih berapa jauh kamu harus berjalan.<br />
Selalu hitung yang harus kamu syukuri, jangan hitung apa yang tidak kamu peroleh.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Apa yang menarik dari manusia?</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Jika menderita, mereka bertanya &#8220;Mengapa harus aku?&#8221;.<br />
Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya &#8220;Mengapa harus aku?&#8221;</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.<br />
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.<br />
Ciptakan tujuan itu.<br />
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.<br />
Peganglah saat ini dengan keyakinan.<br />
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Pertanyaan terakhir, Tuhan.<br />
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Tidak Ada DOA yang tidak dijawab.<br />
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.</p>
<p><strong>AKU :</strong><br />
Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.</p>
<p><strong>TUHAN :</strong><br />
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.<br />
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.<br />
Percayalah padaKu..<br />
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.</p>
<p><strong>&#8230;&#8230;&#8230;.signed out</strong></p>
<p><strong>Goals without TIME LIMIT is NOTHING!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/chat-dengan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Titip Ibuku ya Allah</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/titip-ibuku-ya-allah/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/titip-ibuku-ya-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 07:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[moral story]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Nak, bangun&#8230; udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja&#8230;&#8221;
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang Karyawan disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.
&#8220;Ibu sayang&#8230; ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa.&#8221; pintaku pada Ibu pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Nak, bangun&#8230; udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja&#8230;&#8221;</p>
<p>Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang Karyawan disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.</p>
<p>&#8220;Ibu sayang&#8230; ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa.&#8221; pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah.<br />
<span id="more-100"></span><br />
Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.</p>
<p>Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca .. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak &#8230;.. tapi entahlah&#8230;. Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa.</p>
<p>Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya &#8220;Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ?&#8221;</p>
<p>Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata Ibu berkata, &#8220;Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri&#8221;</p>
<p>Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.</p>
<p>Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu. Ibu menjawab &#8220;Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan.<br />
Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu.</p>
<p>Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.&#8221;</p>
<p>Lagi-lagi aku hanya bisa berucap &#8220;Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu.&#8221; Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bias dilontarkan Ibuku untuk &#8220;cuti&#8221; dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis.</p>
<p>Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi&#8230;<br />
Ah, maafin kami Ibu &#8230; 18 jam sehari sebagai &#8220;pekerja&#8221; seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?</p>
<p>&#8220;Nak&#8230; bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. &#8221;</p>
<p>Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan &#8220;terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu&#8230;&#8221;.</p>
<p>Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu&#8230; Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat Dirimu..</p>
<p>Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat &#8220;aku sayang padamu&#8230; &#8220;, namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita &#8230;</p>
<p>Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada. Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.</p>
<p>Wallaahua&#8217;lam</p>
<p><em>&#8220;Ya Allah,cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu&#8230;&#8221; dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil&#8221;</p>
<p>&#8220;Titip Ibuku ya Allah&#8221;<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/titip-ibuku-ya-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
