<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mutiara &#187; kisah manusia</title>
	<atom:link href="http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/category/kisah-manusia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara</link>
	<description>Tak lekang oleh waktu</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Aug 2009 08:30:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Perempuan Yang Dicintai Suamiku</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/perempuan-yang-dicintai-suamiku/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/perempuan-yang-dicintai-suamiku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 01:19:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.</p>
<p>Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.<br />
<span id="more-67"></span><br />
Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.</p>
<p>Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.</p>
<p>Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama Meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.</p>
<p>Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.</p>
<p>Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.</p>
<p>Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.</p>
<p>Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya, ” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !</p>
<p>Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.</p>
<p>Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.</p>
<p>Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.</p>
<p>Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian. Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?” Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu.<br />
<em><br />
Dear Meisha, </em></p>
<p><em>Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.</p>
<p>Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.<br />
Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.</p>
<p>Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.</p>
<p></em></p>
<p><em>yours,<br />
Mario<br />
</em><br />
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.</p>
<p>Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.<br />
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.</p>
<p>Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.<br />
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.</p>
<p>Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.</p>
<p>**********</p>
<p>Setahun kemudian…</p>
<p>Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.<br />
<em><br />
” Mario, suamiku…. </em></p>
<p><em>Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..</p>
<p>Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.</p>
<p>Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?” Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.</p>
<p>Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.</p>
<p></em></p>
<p><em>Istrimu,<br />
Rima”<br />
</em><br />
Di surat yang lain,<br />
<em><br />
“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”<br />
</em><br />
Disurat yang kesekian,<br />
<em><br />
“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku. </em></p>
<p><em>Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalu menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….</p>
<p></em></p>
<p><em>Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”<br />
</em><br />
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.</p>
<p>Disurat terakhir, pagi ini…<br />
<em><br />
“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor. </em></p>
<p><em>Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.</p>
<p></em></p>
<p><em>Tahukah engkau suamiku, selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”<br />
</em><br />
Jelita menatap Meisha, dan bercerita,</p>
<p>” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”</p>
<p>Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa. Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.<br />
<em><br />
Dear Meisha,<br />
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ? </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….<br />
</em><br />
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. <strong>Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita</strong>.</p>
<p>Jakarta, 7 Januari 2009  (dedicated to my friend&#8230;.may you rest in peace&#8230;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/perempuan-yang-dicintai-suamiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesan terakhir dari ayah</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/pesan-terakhir-dari-ayah/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/pesan-terakhir-dari-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 08:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Ayah…
Hal terindah dalam hidupku adalah nafas yang kau berikan
Ayah……..
Hal terbaik dalam hidupku adalah kenangan bersamamu
Ayah…….
Hal yang bisa kulakukan terakhir untukmu hanyalah sebuah puisi ini
Kenanglah semua yang pernah ada dalam hidup kita
Karena hanya itulah tali yang mengikat hubungan kita
Apapun yang terjadi dalam hidupku kelak
Kau adalah pencipta langkahku
Sekarang dan selamanya.
Sobat,
Apakah arti sebuah kehidupan bila kita tidak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ayah…<br />
Hal terindah dalam hidupku adalah nafas yang kau berikan</p>
<p>Ayah……..<br />
Hal terbaik dalam hidupku adalah kenangan bersamamu</p>
<p>Ayah…….<br />
Hal yang bisa kulakukan terakhir untukmu hanyalah sebuah puisi ini</p>
<p>Kenanglah semua yang pernah ada dalam hidup kita<br />
Karena hanya itulah tali yang mengikat hubungan kita<br />
Apapun yang terjadi dalam hidupku kelak<br />
Kau adalah pencipta langkahku<br />
Sekarang dan selamanya.</p>
<p>Sobat,<br />
Apakah arti sebuah kehidupan bila kita tidak bisa membuat orang yang kita sayangin merasa bahagia dan mendapatkan sebuah tempat yang nyaman di akhir hidupnya.<br />
<span id="more-146"></span><br />
Dulu,<br />
Setiap pagi saya masih ingat ketika saya kecil, saya dan adik saya selalu berangkat dengan sebuah vespa tua milik ayah saya untuk pergi ke sekolah. Walaupun bunyinya tidak enak didengar, tapi itu lah kenangan terindah dalam hidup saya. mengapa? karena dengan sepenuh hati Ayah saya mengantarkan saya pergi ke sekolah. Setiap paginya ayah saya bangun di pagi hari untuk bersiap-siap mengantarkan saya, sedangkan ibu saya sibuk membuat kue yang akan dia perdagangkan di pasar sebagai satu-satunya mata pencarian yang menopang kehidupan keluarga kami walaupun ayah juga bekerja sebagai dokter rumahan tradisional.</p>
<p>Ayah saya adalah seorang pekerja yang mengandalkan jasanya untuk mengobati anak-anak yang sakit, ayah termasuk orang yang dhermawan. Iya dikenal luas oleh tetangga-tetangga saya sebagai orang yang baik hati karena terkadang menolong pasien yang datang dengan gratis karena tidak mampu, tidak heran ditempat saya yang lingkungannya masih terbelakang karena kebanyakan dari mereka adalah pedagang di pasar mengenal baik ayah saya. Ibu saya juga wanita tangguh dan tidak pernah malu berdagang kue di pasar, ia sadar keluarga kami sederhana dan hanyalah ini yang ia bisa lakukan agar saya dan adik saya tetap dapat bersekolah.</p>
<p>Saya tidak pernah tau mengapa ayah saya sering sekali bangun di pagi hari dan batuk tiada henti hingga selalu membuat saya terbangun dari tidur saya. Hal itu terjadi nyaris 3 tahun terakhir hingga saya lulus dari bangku sekolah dasar dan masuk sekolah menengah utama, sejak saat itu saya tidak pernah diantar oleh ayah saya karena saya bersekolah di siang hari sedangkan adik saya masih pergi bersama ayah. Ayah adalah orang yang mengutamakan orang lain, saya pernah ingat suatu ketika di malam hari seorang ibu datang mengetuk pintu kami disaat kami berisrihat bersama bayinya. Ibu itu menangis karena anaknya mengalami kesulitan bernafas, ayah saya dengan sigap menolong ibu itu walaupun saat itu bukan jam prakteknya.</p>
<p>Merasa iba dengan cerita ibu muda itu yang mengaku kehilangan suaminya, ayah bukan hanya memberikan gratis pengobatan tapi juga membantu memberikan uang seadanya untuk ibu itu agar bisa membeli obat kepada anaknya, paginya saya mendekat pada ayah karena saya ingin memberi buku pelajaran baru dengan polos ayah mengaku uang yang ia siapkan untuk membeli buku baru saya telah diberikan kepada ibu yang bertandang ke rumah kami semalam. Saya sedih sekaligus marah tapi ayah mengingatkan saya bahwa buku saya masih bisa saya beli nanti bila ia berhasil mendapatkan uang, tapi saya mendapatkan satu pelajaran dari pengorbanan ayah kelak hari.</p>
<p>Keesokan paginya tidak seperti biasanya ayah batuk-batuk tiada henti hingga membuat kami cemas, ibu yang masih membuat kue sampai meninggalkan kuenya demi meminta tolong tetangga saya karena kondisi ayah sangat parah hingga batuk mengeluarkan darah. Saya bersedih hati ketika melihat beberapa tetangga saya pergi membawa ayah saya dan menyarankan saya bersama adik saya dirumah saja. Dengan cemas saya berpikir ayah akan kembali pada siang hari dan ternyata saya salah hingga ibu pulang seorang diri sambil mengatakan saya harus bersiap-siap berkunjung ke rumah sakit.</p>
<p>Ketika tiba di rumah sakit, saya melihat ayah sudah dalam keadaan tidak mampu berdiri dengan alat bantu pernafasan yang dihempaskan suster mengunakan tabung kecil ke mulutnya. Saya dan adik saya langsung menangis melihat keadaan itu, saya bertanya kepada ibu saya apa yang terjadi mengapa ayah bisa sampai diperlakukan demikian. Ibu mengatakan pada saya untuk mendekat pada ayah dan katakan hal yang ingin saya katakan pada ayah untuk terakhir kalinya. Saya tertenggun dan sadar bahwa ayah sedang menunggu saya untuk bicara, adik saya yang masih kecil seperti tidak terlalu mengerti keadaan ayah tapi ikut menangis.</p>
<p>Saya dekati ayah saya dan bertanya apakah ayah akan baik baik saja. Beliau tersenyum dan hanya mengeluarkan air mata, paman saya yang sudah memang sejak awal disana mengatakan kepada saya untuk bilang bahwa saya ikhlas dan harus mengatakan sebuah pesan terakhir untuk ayah saya, saya turutin permintaan paman saya dengan tangis terendap-endap saya berkata</p>
<p>” Papa, kalau memang papa harus pergi. Saya ihklas, saya janji untuk menjaga adik dan Mama. Dan akan menjadi anak yang berbakti !”</p>
<p>Ayah hanya mampu menuliskan pesan lewat tangannya</p>
<p>” Maafkan papa tidak bisa memberikan buku yang papa janjikan..”</p>
<p>Dan senyuman terakhir ayah saya menjadi kenangan terakhir pada saya, saya cium kakinya untuk terakhir kalinya dan usai pemakaman saya baru menyadari bahwa ayah saya mengidap kanker paru-paru. Saya bersyukur disaat kematian ayah saya banyak dari tetangga saya yang beraneka ragam ikut membantu prosesnya dan bahkan mereka juga memberikan bantuan dana untuk meringankan beban saya. Terdengar oleh saya dari seorang tamu yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayah saya</p>
<p>” Dia ( ayah saya) adalah seorang dokter yang bisa menolong orang dengan baiknya tapi sayang dia tidak bisa menyadari apa yang terjadi dalam dirinya. Orang ini begitu mulia, lihatlah hampir semua pasien yang pernah ditolongnya datang untuk memberikan penghormatan”</p>
<p>Saya bangga sekaligus bersedih hati, ayah saya sukses sebagai seorang manusia yang mengajarkan saya tentang arti kehidupan dan menolong orang. Ibu saya mungkin orang yang paling mengalami cobaan paling hebat dalam hidupnya ketika harus menjadi tulang punggung sepenuh hati setelah ayah saya meninggal. Saya juga berjuang untuk membantu beban keluarga saya agar ibu saya bisa tertolong karena adik saya masih membutuhkan dana yang besar guna mendapatkan pendidikan sembilan tahun. Tapi syukuran kehidupan kami bisa berjalan dengan baik berkat ibu saya yang memang wanita luar biasa.</p>
<p>Dewasa ini saya menjadi penulis novel dan salah satunya yang saya tulis adalah kisah perjuangan seorang anak melawan kanker seperti yang saya alami. Kisah yang saya tulis bukan semata mayang untuk menghibur tapi menyampaikan sebuah pesan dan kisah inspiratif, saya bersyukur bahwa saya berhasil untuk pesan saya ini. kisah yang saya tulis dalam novel saya telah membuat banyak orang terisnpirasi akan perjuangan dan arti kehidupan</p>
<p>Setelah saya menepati janji saya untuk menjadi anak yang berguna dan berbakti, Saya pun teringat oleh janji ayah saya kepada saya tentang buku yang akan ia janjikan, Saya merasa buku itu sudahlah tidak penting karena saya sudah jauh dari bangku pendidikan. Saya pun menyumbangkan sebagian hasil penjualan buku saya untuk memberikan kepada yang tidak mampu sebagai bentuk penepatan janji ayah saya pada saya. Saya ingin dia bahagia di alam sana dan menyadari bahwa janjinya kepada saya telah terpenuhi.</p>
<p>Ibu saya adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya hingga pada saat ini kebahagiaan saya adalah untuk memberikan hal paling indah yang bisa saya berikan kepadanya bersama adik saya. Dan merekalah cinta terakhir saya.</p>
<p>***<br />
<em>(saya sangat ingin sekali mengetahui siapa penulis artikel ini. Buat temen2 yang tahu, mohon infonya ya&#8230;)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/pesan-terakhir-dari-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empati</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/empati/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/empati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 07:19:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.</p>
<p>Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.</p>
<p>Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.<br />
<span id="more-102"></span><br />
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.</p>
<p>Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang<br />
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.</p>
<p>Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.</p>
<p>Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.</p>
<p>Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan<br />
terbatas karena tenaga kerja mahal.</p>
<p>Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.</p>
<p>Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.</p>
<p>Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.</p>
<p>Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal<br />
mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.</p>
<p>Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku &#8220;Chicken Soup&#8221;, saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.</p>
<p>Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata &#8220;terima kasih&#8221; saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata &#8220;terima kasih&#8221; merupakan &#8220;magic words&#8221; yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata &#8220;tolong&#8221; ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.</p>
<p>Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. &#8220;Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?&#8221; Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah<br />
tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.</p>
<p>Saya membayangkan, alangkah indah nya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.</p>
<p>Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.</p>
<p>Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.</p>
<p>Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak<br />
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari<br />
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang<br />
juga.</p>
<p>(Andy F Noya)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/empati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ungkapan Jujur Seorang Anak</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/ungkapan-jujur-seorang-anak/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/ungkapan-jujur-seorang-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 07:03:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.</p>
<p>Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:<br />
&#8220;Apa yang kamu inginkan ?&#8221; Dika hanya menggeleng.<br />
&#8220;Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;Biasa-biasa saja&#8221; jawab Dika singkat.<br />
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.<br />
<span id="more-98"></span><br />
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.</p>
<p>Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 &#8211; 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).</p>
<p>Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.</p>
<p>Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.</p>
<p>Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal. Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan &#8220;Aku ingin ibuku :&#8230;.&#8221;<br />
Dika pun menjawab : &#8220;membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja&#8221;</p>
<p>Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah.</p>
<p>Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.</p>
<p>Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan &#8220;Aku ingin Ayahku &#8230;&#8221;<br />
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya &#8220;Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu&#8221;</p>
<p>Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.</p>
<p>Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan &#8220;Aku ingin ibuku tidak &#8230;&#8221;. Maka Dika menjawab &#8220;Menganggapku seperti dirinya&#8221;.</p>
<p>Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.</p>
<p>Ketika Psikolog memberikan pertanyaan &#8220;Aku ingin ayahku tidak : ..&#8221;, Dika pun menjawab &#8220;Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa&#8221;.</p>
<p>Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.</p>
<p>Ketika Psikolog itu menuliskan &#8220;Aku ingin ibuku berbicara tentang &#8230;..&#8221;, Dika pun menjawab &#8220;Berbicara tentang hal-hal yang penting saja&#8221;.</p>
<p>Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Atas pertanyaan &#8220;Aku ingin ayahku berbicara tentang &#8230;&#8230;&#8221;, Dika pun menuliskan &#8220;Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku&#8221;.</p>
<p>Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.</p>
<p>Ketika Psikolog menyodorkan tulisan &#8220;Aku ingin ibuku setiap hari &#8230;..&#8221;<br />
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar &#8220;Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku&#8221;</p>
<p>Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.</p>
<p>Secarik kertas yang berisi pertanyaan &#8220;Aku ingin ayahku setiap hari &#8230;.&#8221;, Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata &#8220;tersenyum&#8221;</p>
<p>Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.</p>
<p>Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan &#8220;Aku ingin ibuku memanggilku. &#8230;&#8221;, Dika pun menuliskan &#8220;Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus&#8221;</p>
<p>Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata &#8220;Lanang&#8221; yang berarti laki-laki.</p>
<p>Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi &#8220;Aku ingin ayahku memanggilku ..&#8221;, Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu &#8220;Nama Asli&#8221;.</p>
<p>Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan &#8220;Paijo&#8221; karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. &#8220;Persis Paijo, tukang sayur keliling&#8221; kata suami saya. Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan &#8220;To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice&#8221; sebuah seruan yang mengingatkan bahwa &#8220;Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan&#8221;. Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. </p>
<p>Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/ungkapan-jujur-seorang-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Dari Mantan Artis Porno</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/surat-dari-mantan-artis-porno/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/surat-dari-mantan-artis-porno/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 06:48:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[artis porno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Shelley Luben  mantan aktris porno mengaku bisa keluar dari dunia gelap bernama &#8216;industri pornografi’ dan memilih menjadi aktivis melawan ekploitasi seksual terhadap gadis-gadis muda Amerika.
Gadis cantik, bertubuh seksi dan mata yang membangkitkan gairah seakan-akan berkata &#8220;i want You&#8221;. Itu kesan yang terlihat di setiap sampul film porno. Tapi, bisa jadi itulah tipuan terbesar sepanjang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Shelley Luben  mantan aktris porno mengaku bisa keluar dari dunia gelap bernama &#8216;industri pornografi’ dan memilih menjadi aktivis melawan ekploitasi seksual terhadap gadis-gadis muda Amerika.</p>
<p>Gadis cantik, bertubuh seksi dan mata yang membangkitkan gairah seakan-akan berkata &#8220;i want You&#8221;. Itu kesan yang terlihat di setiap sampul film porno. Tapi, bisa jadi itulah tipuan terbesar sepanjang masa.</p>
<p>Inilah kisah dan pengakuan Shelley Luben tentang masa buruk dan seluk beluk industri maksiat itu. Tulisan ini diturunkan sebagai pelajaran bagi kita semua. Terutama para aktivis yang “menurut mata” terhadap dampak industri pornografi.<br />
<span id="more-92"></span><br />
Percayalah, Aku tahu !!</p>
<p>“Aku dulu pernah melakukannya sepanjang waktu dan aku melakukannnya karena Nafsuku akan kekuasaan dan kecintaanku kepada uang. Aku tidak pernah menyukai seks. Bahkan Aku tidak menginginkannya dan faktanya aku lebih banyak minum Jack Daniels (jenis minuman alkohol import original. Sejenis Jhonny Walker yang juga masuk Indonesia, red) daripada bersama para pria yang dibayar seperti aku untuk &#8220;berpura-pura&#8221; di film.</p>
<p>Ya Benar tidak ada diantara kami –gadis-gadis blonde yang menyukai being in porn movie. Kami benci disentuh oleh orang asing yang sama sekali tidak peduli dengan kami. Kami benci dianggap rendah oleh mereka, laki-laki dengan keringat dan bau busuknya. Beberapa diantara kami sering sampai muntah di kamar mandi saat break syuting. Sedangkan yang lainnya berusaha menenangkan diri dengan merokok Marlboro tanpa henti.</p>
<p>Tapi porn industry (industri pornografi) ingin agar kamu selalu berpikir kalau kami artis porno sangat menyukai seks. Mereka ingin kamu percaya bahwa kami senang dilecehkan seperti binatang dalam berbagai jenis adegan di film.</p>
<p>Kenyataannya, artis porno sering tidak tahu apa saja adegan yang akan mereka lakukan saat pertama kali datang ke lokasi syuting dan kami hanya diberi dua pilihan oleh produser: &#8220;Lakukan atau Pulang Tanpa Bayaran. Kerja atau tidak akan bisa kerja lagi.&#8221;</p>
<p>Iya memang benar kami punya pilihan.</p>
<p>Beberapa diantara kami memang sangat memerlukan uang. Tapi kami dimanipulasi, dipaksa bahkan diancam.</p>
<p>Beberapa diantara kami terjangkit AIDS karena profesi ini. Atau tertular herpes dan berbagai macam penyakit kelamin lain yang sukar disembuhkan. Salah seorang artis film porno setelah syuting dengan menahan sakit sepanjang hari setelah sampai dirumah menembak kepalanya dengan pistol.</p>
<p>Kebanyakan dari artis porno mungkin berasal dari keluarga yang berantakan dan pernah mengalami pelecehan seksual dan perkosaan dari keluarga atau tetangganya sendiri. Saat kami kecil kami hanya ingin bermain dengan boneka, bukan mendapatkan trauma saat seorang laki-laki dewasa berada diatas tubuh kami.</p>
<p>Jadi sejak kecil kami belajar bahwa seks bisa membuat kami berharga. Dan dengan semua pengalaman mengerikan itu kami menipu kalian di depan kamera padahal sebenarnya kami membenci di setiap menitnya.</p>
<p>Karena trauma itu kebanyakan artis porno hidupnya tergantung kepada alkohol dan narkotika. Dan hidup kami juga selalu diliputi ketakutan akan terjangkit HIV atau penyakit kelamin lainnya seperti; Herpes, gonorrhea, syphilis, chlamydia, dll. setiap hari menghantui kami.</p>
<p>Menurut catatan Shelley dalam situs web nya. Sebelas bintang pornografi mati akibat HIV, bunuh diri, pembunuhan dan obat pada tahun 2007. Antara 2003 dan 2005, 976 orang pemain dilaporkan dengan 1.153 hasil positif STD. 66% dari pemain pornografi terkena Herpes, penyakit yang tak dapat disembuhkan.</p>
<p>Memang setiap bulan kami diperiksa tapi kamu tahu, kalau hal tersebut tidak akan bisa mencegah kami tertular penyakit-penyakit mematikan itu. Selain penyakit, adegan syuting tidak kalah mengerikannya, banyak dari kami mengalami luka sobek atau luka pada organ tubuh bagian dalam kami.</p>
<p>Diluar syuting kami sering berharap bisa menjalani hidup yang normal. Tapi sangat sulit menjalin hubungan yang normal dengan laki-laki ‘biasa’, maka dari itu kebanyakan dari kami menikah dengan sutradara film porno atau menjalani hidup sebagai lesbian.</p>
<p>Buat aku, momen yang tidak akan terlupakan adalah ketika tanpa sengaja anak perempuanku melihat ibunya yang telanjang sedang berciuman dengan gadis lain. Anakku pasti akan terus mengingatnya juga.</p>
<p>Pada hari yang lain kami bisa berubah seperti zombie dengan botol bir di tangan kanan dan gelas wisky di tangan kiri. Kami tidak suka bersih-bersih jadi sering kali kami harus menyewa pembantu untuk membersihkan kotoran kami. Selain itu artis porno benci memasak sendiri. Biasanya kami memesan makanan yang kemudian kami muntahkan lagi karena kebanyakan dari kami menderita bulimia, semacam gejala lapar yang tidak pernah terpuaskan.</p>
<p>Bagi artis porno yang memiliki anak, kami adalah ibu yang paling buruk. Kami menjerit dan bahkan memukul anak kami tanpa alasan. Seringkali saat kami begitu mabuknya sampai-sampai anak kami yang berumur 4 tahun yang menyeret kami dari lantai. Dan ketika ada tamu (kebanyakan karena alasan seks) kami harus mengunci anak kami terlebih dulu dikamar dan menyuruh mereka untuk diam.</p>
<p>Kalau aku biasa membekali anak gadisku dengan pager dan kusuruh dia menungguku di taman sampai aku selesai dengan tamuku.”</p>
<p>Semua Tipuan&#8230;</p>
<p>“Kalau kamu bisa melihat lebih dalam kehidupan artis film porno mungkin kamu akan kehilangan minat menonton film porno. Kenyataan sebenarnya kami artis film porno ingin mengakhiri semua rasa malu ini dan semua trauma dalam hidup kami. Tapi sayangnya kami tidak bisa melakukannya sendiri.</p>
<p>Kami berharap kalian kaum pria membantu kami, memperjuangkan kebebasan dan kehormatan kami. Kami ingin kalian memeluk kami saat kami menghapus air mata dan menyembuhkan luka di hati kami. Kami berharap kalian mau berdoa untuk kami dan semoga Tuhan akan mendengar dan mengampuni semua kesalahan kami di masa lalu.</p>
<p>Industri film porno tidak lebih dari “seks palsu” dan “tipuan kamera”. Percayalah…….!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/surat-dari-mantan-artis-porno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagi, Kekuatan Kasih</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/lagi-kekuatan-kasih/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/lagi-kekuatan-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 02:38:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa. Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah mengajar beberapa murid berbakat. Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang &#8220;tertantang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa. Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah mengajar beberapa murid berbakat. Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang &#8220;tertantang secara musik&#8221;.<br />
<span id="more-58"></span><br />
Contohnya adalah Robby. Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia dalam les untuk pertama kalinya. Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) mulai ketika lebih muda, saya jelaskan itu pada Robby. Tapi Robby berkata, ibunya selalu ingin mendengar dia bermain piano. Jadi saya jadikan dia  murid. Robby memulai les pianonya dan dari awal saya pikir dia tidak ada harapan. Robby mencoba, tapi dia tak mempunyai perasaan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Tapi dia mempelajari benar-benar tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya wajibkan untuk dipelajari semua murid.</p>
<p>Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarnya dengan ngeri dan terus mencoba menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, &#8220;Ibu saya akan mendengar saya bermain pada suatu hari.&#8221; Tapi rasanya sia-sia saja. Dia memang tak berkemampuan sejak lahir.<br />
Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika menurunkan Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah turun.</p>
<p>Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami. Saya berpikir untuk menghubunginya, tapi karena ketidakmampuannya, mungkin dia mau les yang lain saja. Saya juga senang dia tidak datang lagi. Dia menjadi iklan yang buruk untuk pengajaran saya!</p>
<p>Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan brosur ke tiap murid, mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan. Yang mengagetkan saya, Robby (yang juga menerima brosur) menanyakan saya apakah dia bisa ikut pertunjukan itu. Saya katakan kepadanya, pertunjukan itu untuk murid yang ada sekarang dan karena dia telah keluar, tentu dia tak bisa ikut. Dia katakan bahwa ibunya sakit sehingga tak bisa mengantarnya ke les, tapi dia tetap terus berlatih. &#8220;Bu Hondrof&#8230; saya mau main!&#8221; dia memaksa. Saya tidak tahu apa yang membuat saya akhirnya membolehkan dia main di pertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada sesuatu yang berkata dalam hati saya bahwa dia akan baik-baik saja.</p>
<p>Malam pertunjukan datang. Aula itu dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menaruh Robby pada urutan terakhir sebelum saya ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Saya rasa kesalahan yang dia buat akan terjadi pada akhir acara dan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya. Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya bagus.</p>
<p>Lalu Robby naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya bagaikan baru dikocok. &#8220;Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?&#8221; pikir saya. &#8220;Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini?&#8221;</p>
<p>Robby menarik kursi piano dan mulai. Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart&#8217;s Concerto #21 in C Major. Saya tidak dapat bersiap untuk mendengarnya. Jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari dengan gesit. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo&#8230; dari allegro ke<br />
virtuoso. Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan! Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur dia sebagus itu! Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua terpaku disana dengan tepuk tangan yang meriah. </p>
<p>Dalam air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita. Saya belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby! Bagaimana kau melakukannya?&#8221;</p>
<p>Melalui pengeras suara Robby menjawab, &#8220;Bu Hondorf&#8230; ingat saya berkata bahwa ibu saya sakit? Ya, sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah berlalu pagi ini. Dan sebenarnya&#8230; dia tuli sejak lahir jadi hari inilah dia pertama kali mendengar saya bermain. Saya ingin bermain secara khusus.&#8221;</p>
<p>Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu. Ketika orang-orang dari Layanan sosial membawa Robby dari panggung ke ruang pemeliharaan, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena mengambil Robby sebagai murid saya. Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya. Karena dialah yang mengajarkan saya arti ketekunan, kasih, percaya pada dirimu sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui mengapa.</p>
<p>Peristiwa ini semakin berarti ketika, setelah bermain di Desert Storm, Robby terbunuh oleh pengeboman yang tak masuk akal oleh Alfred P. Murrah Federal Building di Oklahoma pada April 1995, ketika dilaporkan&#8230; dia sedang main piano.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/lagi-kekuatan-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senyumlah..</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/senyumlah/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/senyumlah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 07:52:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[moral story]]></category>
		<category><![CDATA[senyum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.
Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.</p>
<p>Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.</p>
<p>Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama &#8220;Smiling.&#8221; Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.<br />
<span id="more-53"></span><br />
Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald&#8217;s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.</p>
<p>Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri di belakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.</p>
<p>Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu &#8220;bau badan kotor&#8221; yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil!</p>
<p>Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.</p>
<p>Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang &#8220;tersenyum&#8221; ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima &#8216;kehadirannya&#8217; di tempat itu.</p>
<p>Ia menyapa &#8220;Good day!&#8221; sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya &#8216;tugas&#8217; yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.</p>
<p>Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah &#8220;penolong&#8221;nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan counter.</p>
<p>Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan.</p>
<p>Lelaki bermata biru segera memesan &#8220;Kopi saja, satu cangkir Nona.&#8221;</p>
<p>Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.</p>
<p>Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka&#8230;</p>
<p>Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua &#8216;tindakan&#8217; saya.</p>
<p>Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (di luar pesanan saya) dalam nampan terpisah.</p>
<p>Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap &#8220;makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.&#8221;</p>
<p>Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca2 dan dia hanya mampu berkata &#8220;Terima kasih banyak, nyonya.&#8221;</p>
<p>Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata &#8220;Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian,Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.</p>
<p>Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata &#8220;Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan &#8216;keteduhan&#8217; bagi diriku dan anak2ku!&#8221;</p>
<p>Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena &#8216;bisikanNYA&#8217; lah kami telah mampu memanfaatkan &#8216;kesempatan&#8217; untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.</p>
<p>Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin &#8216;berjabat tangan&#8217; dengan kami. Salah satu di antaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap &#8220;Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.&#8221;</p>
<p>Saya hanya bisa berucap &#8220;terimakasih&#8221; sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke arah kedua lelaki itu, dan seolah ada &#8216;magnit&#8217; yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh ke arah kami sambil tersenyum, lalu melambai2kan tangannya ke arah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 &#8216;tindakan&#8217; yang tidak pernah terpikir oleh saya.</p>
<p>Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa &#8216;kasih sayang&#8217; Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!</p>
<p>Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan &#8216;cerita&#8217; ini di tangan saya. Saya menyerahkan &#8216;paper&#8217; saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, &#8220;Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?&#8221; dengan senang hati saya mengiyakan.</p>
<p>Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang di dekat saya di antaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.</p>
<p>Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis di akhir paper saya.<br />
&#8220;Tersenyumlah dengan &#8216;HATImu&#8217;, dan kau akan mengetahui betapa &#8216;dahsyat&#8217; dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.&#8221;</p>
<p>Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah &#8216;menggunakan&#8217; diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald&#8217;s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: &#8220;PENERIMAAN TANPA SYARAT.&#8221;</p>
<p>Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!</p>
<p>Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada &#8216;malaikat&#8217; yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!</p>
<p>Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya &#8217;sahabat yang bijak&#8217; yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.</p>
<p>Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya!</p>
<p>Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.</p>
<p>Orang-orang muda yang &#8216;cantik&#8217; adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang &#8216;cantik&#8217; adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri&#8230;&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/moral-story/senyumlah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hachiko Monogatari</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/hachiko-monagatari/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/hachiko-monagatari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 07:39:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[anjing setia]]></category>
		<category><![CDATA[hachiko monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.
Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.</p>
<p>Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.<br />
<span id="more-51"></span><br />
Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.</p>
<p>Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko. Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.</p>
<p>Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.</p>
<p>Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan,” saya akan menunggu tuan kembali.”</p>
<p>“ Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!” teriak pegawai kereta setengah berkelakar.</p>
<p>Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,”guukh!”<br />
Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.</p>
<p>Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.</p>
<p>Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia. Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.</p>
<p>Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.</p>
<p>Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.</p>
<p>Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.</p>
<p>Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.</p>
<p>Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.</p>
<p>Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.</p>
<p>Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.</p>
<p>Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.</p>
<p>Film ttg kisah hachiko dibuat d jepang tahun 1987 dgn judul &#8216;Hachiko Monagatari&#8217;. Film ini byk memperoleh penghargaan&#8230; Dan ada juga versi hollywoodnya yang dibuat dgn judul &#8216;Hachiko : A Dog&#8217;s Story&#8217; (Starring and Co-Producted by Richard Gere)&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/hachiko-monagatari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Musim Dingin</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/kisah-musim-dingin/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/kisah-musim-dingin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 07:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.
Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.</p>
<p>Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru.<br />
<span id="more-48"></span><br />
Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan. Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.</p>
<p>Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan.</p>
<p>Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.</p>
<p>Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa.. Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah.</p>
<p>Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei.</p>
<p>Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya. Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap terbaca.</p>
<p>&#8220;Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar. Hi…hi…hi.. mama selamat ulang tahun.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/kisah-musim-dingin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Impian Seorang Mahasiswi Lansia</title>
		<link>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/impian-seorang-mahasiswi-lansia/</link>
		<comments>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/impian-seorang-mahasiswi-lansia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 05:45:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia menyapa,
&#8220;Halo anak cakep. Namaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia menyapa,<br />
&#8220;Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku? &#8221; Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya,<br />
&#8220;Tentu saja boleh!&#8221;. Dia pun memberi saya ! pelukan yang sangat erat.<br />
<span id="more-38"></span><br />
&#8220;Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih begitu muda dan tak berdosa seperti ini?&#8221; tanya saya berolok-olok. Dengan bercanda dia menjawab,<br />
&#8220;Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah yang serius?&#8221; pinta saya. Sya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya.<br />
&#8220;Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya! &#8221; katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab. </p>
<p>Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.</p>
<p>Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa ap yang diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata,<br />
&#8220;Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua. Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya. &#8221; </p>
<p>&#8220;Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur slama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan tahun. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan.&#8221; </p>
<p>&#8220;Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya <strong>bukan menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat</strong>. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan.&#8221;</p>
<p>Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi &#8220;The Rose&#8221;. Dia menantang setiap oang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, <strong>menjadi tua adalah kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan</strong>.</p>
<p>* * * * *<br />
Sediakan waktu untuk berpikir, agar selalu mendapat yang terbaik.<br />
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.<br />
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan hikmat &#038; kebijaksanaan.<br />
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju keharmonisan.<br />
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.<br />
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan. Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.<br />
Sediakan waktu untuk bekerja, itulah sumber kebahagiaan.<br />
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.<br />
Sediakan waktu untuk Tuhan, sehingga setelah meninggal menemukan tempat terbaik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://frandi.rumahfrandi.com/mutiara/kisah-manusia/impian-seorang-mahasiswi-lansia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
