Mudik Ceria Kuta – Sumenep
Saat-saat membosankan
Beberapa hari setelah puasa bergulir, seperti biasa, aroma-aroma lebaran sudah hinggap di seluruh panca indera. Mulai dari rencana mudik, oleh2 buat orang rumah, sampai baju yang akan dipakai waktu silaturrahim saat lebaran nanti. Semuanya berkolaborasi dengan kompak hingga akhirnya sukses mengalihkan konsentrasi untuk beberapa saat dari workspace Visual Studio 2005. Hihi…childist childish banget yah. Kok kesannya ga khusuk gitu puasanya.
Akhirnya daripada bengong ngelamun kaya orang lagi mancing di empang, jadilah beralih ke aktivitas yang lebih bermanfaat, submit leave. Hehe…bermanfaat banget kan. Setelah beberapa kali cross check kalender dengan leave balance, akhirnya klik tombol Submit. Beres dah, tinggal tunggu approval dari boss besar. Satu jam kemudian, notifikasi approval itupun datang ke inbox. Criing… Wow, lancar bener yak… jadi mudik neh…
Sampai beberapa hari yang lalu, kebosanan itu kembali melanda. Pikiran ssepertinya sudah mudik duluan ke kampung halaman meninggalkan badannya. SRS yang sedianya harus diselesaikan, teronggok begitu saja tanpa sempat diobok-obok. And guess what… ternyata saya kembali beralih pada kegiatan yang lebih bermanfaat. Membuat Peta Mudik. Huehehe… Ada yg berani bilang ini tidak ada gunanya? Gpp, kutampung dulu keberatannya. Nanti akan saya tunjukkan bahwa ini memang kegiatan yg sangat bermanfaat.
Proposal Mudikku Dikabulkan
View Peta Mudik Denpasar – Sumenep in a larger map
Triing…”..iseng banget yah, cuma mo mudik aja sampe dibuatin petanya di google map..”, begitulah kira2 isi massage ym dari salah satu rekan. Jangankan orang lain, awalnya sayapun memang merasa ini adalah kerjaan iseng belaka. Namun setelah dijalani, lama-lama asyik juga. Diam-diam ada perasaan haru ketika menandai satu demi satu titik tempat singgah. Saat itu saya merasa seakan-akan sedang membuat sebuah proposal perjalanan mudik, yang nantinya akan diajukan pada Allah. Teriring do’a semoga apa yang sudah direncanakan ini bisa sejalan dengan kehendak Yang Maha Merencanakan. Kalaupun tidak, saya yakin kok rencana Allah akan lebih baik dan lebih indah dari rencana yang sudah saya susun sendiri ini.
Hari H, setelah packing, seluruh bagian anggota tubuh sudah merasa siap dan bersemangat mengeksekusi rencana mudik yang telah dibuat. Dan apa yang terjadi kemudian? Subhanallah… ternyata hampir 90% terlaksana dengan sempurna. Proposal mudikku benar-benar dikabulkan. Sedangkan 10% sisanya, meskipun sedikit melenceng dari rencana, tapi ternyata telah dibuat lebih baik dan lebih indah oleh Allah. Persis sesuai dengan apa yang senantiasa saya mohonkan dalam do’a.
Kalau di dalam rencana, bus nya akan naik kapal ferry ketika menyeberangi selat Madura, ternyata Alhamdulillah bus nya dibelokkan lewat jembatan Suramadu. Ini tentu lebih baik karena mengurangi resiko antri di pelabuhan untuk naik ferry. Saya juga merencanakan untuk naik becak dari terminal Arya Wiraraja Sumenep ke rumah. Tapi ternyata dapet telepon bahwa saya akan dijemput sama Ramanda tersayang. Wuaaahh…senangnya, tentu ini lebih indah dari yang sudah direncanakan. Dan berkat kelancaran dan kemudahan selama di perjalanan, akhirnya saya bisa merasakan sahur bersama keluarga di hari terakhir Ramadhan. Padahal sebelumnya saya sudah memprediksi akan sahur di jalan mengingat kondisi arus mudik yang mencapai puncak pada hari itu. Sungguh, rencana Allah lebih baik dan lebih indah dari rencana manusia.
Hikmah Teman Seperjalanan
Sepanjang jalan mudik, dari sejak pertama keluar kos sampai akhirnya tiba dengan sehat wal afiyat di rumah, tentu banyak hal yang bisa diceritakan. Seperti misalnya “mudik bersama” karyawan Mitrais pada hari itu di Bandara Ngurah Rai. Meskipun tidak direncanakan sebelumnya, ternyata pesawat kami berangkat pada jam yang hampir bersamaan. Ada yang ke Surabaya, Makasar, Bandung, Jakarta. Bahkan tanpa direncanakan pula, kami sampai buka bersama di ruang tunggu boarding, dengan saling membagi bekal yang dibawa masing-masing. Oh, indahnya…
Yang tak kalah layak untuk diceritakan juga adalah, pertemuanku dengan teman-teman seperjalanan. Pertama ketika di pesawat (Denpasar – Surabaya), dan yang kedua ketika di bus (Surabaya – Sumenep). Yang pertama adalah seorang pegawai bea cukai yang sedang berdinas di Timika, Papua. Orangnya supel, ramah, dan yaa… talk active gitu deh. Dan tentu saja saya suka. Topik pembicaraan bisa ditebak donk, apalagi kalo bukan situasi keamanan di sana, berkaitan dengan rentetan peristiwa penembakan akhir-akhir ini di areal milik perusahaan tambang asal Amrik di sana. Pembicaraan khas orang Indonesia yang suka nguping plus bisik-bisik info sensitif mengalir tanpa bisa diganggu oleh hilir mudiknya pramugari. Hehe…lumayan lah jadi nambah wawasan deh akhirnya.
Yang kedua, adalah seorang “TKI” yang baru pulang dari Malaysia. Ngerti donk kenapa tulisan TKI nya saya kasih tanda petik. Yups…selama lebih dari lima tahun disana, cuma paspor melancong yang dikantonginya. Akhirnya kabar2 tak mengenakkan yang selama ini saya dapatkan dari media, bisa langsung saya dapatkan dari nara sumber aslinya. Sembunyi di hutan, upah tidak dibayar, ditangkap pasukan RELA Malaysia, semuanya adalah keseharian yang biasa ditemui di sana. Cuma untungnya, karena dia mengantongi paspor melancong, akhirnya bisa pulang ke tanah air dengan pesawat dengan mudah. Tidak seperti rekan2nya yg lain yang terpaksa harus sembunyi2 naik boat menyeberang ke Sumatera untuk pulang.
Sungguh, dua orang yang berbeda latar belakang dan topik pemicaraan, telah Allah turunkan untuk menemani rangkaian perjalan mudikku. Tentu ada maksud dan hikmah di balik itu semua. Apa itu? Wallahu a’lam. Saya pun masih terus mencari tahu sampai sekarang.
Sudah ada 2 tanggapan
aaahh.. sekarang ngerti aku kenapa pas pertama baca serasa ada yang aneh! Kamu nulisnya childist, Frand, bukan childish. Fufufufufuu..
Fran…berbakat juga nulis. Asik juga bacanya. Thx yah tulisanmu nemenin gak bisa bo2 aq he3…Assalamualaikum
Nyumbang ide :