Mendung
Kuta, 25 Oktober 2008
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, udara Kuta hari ini memang terasa lebih sejuk. Di luar, langit masih terlihat mendung walaupun sudah tak lagi meneteskan butiran-butiran airnya seperti tadi pagi. Rencana untuk membeli kipas angin baru yang sudah disusun rapi sejak kemarin terpaksa kurombak ulang. Tak bijak rasanya membelanjakan uang untuk hal-hal yang nantinya hanya akan dirasakan kurang manfaatnya.

Awan mendung
Suasana seperti ini ternyata kurasakan tak cuma mampu menyejukkan tubuh, tetapi juga menular pada kesejukan emosi. Akibatnya, hasrat untuk menulis yang sudah sebulan lebih tak menampakkan wujudnya kini jelas sekali menari-nari di benakku. Kesempatan ini tentu saja tak boleh kulewatkan, sampai-sampai ajakan teman-teman kos untuk mengunjungi arena Bali Food Festival dengan sangat terpaksa kutolak. Entah akan kausebut apa seorang pemuda yang cakep nan menawan, yang melewatkan malam minggunya hanya di depan notebook, untuk menunaikan hasrat menulisnya yang sedang menggebu-gebu. Weird? Nerd? Ah, whatever lah.
Apalagi sejak tadi siang membaca salah satu bukunya mbak Asma Nadia yang kubawa dari Surabaya, hatiku yang sudah sangat lembut ini menjadi semakin melow aja. Tak sabar rasanya kutumpahkan semuanya ke dalam kombinasi harmonis huruf-huruf pengikat makna. Ntar deh, beberapa akan kubagi di sini, soalnya memang tak semuanya layak buat konsumsi publik.
Aih…keasyikan bercerita, hampir aja lupa kalo belum sholat Ashar. Udah dulu ah, kusambung lagi ntar…
Nyumbang ide :