RumahFrandi Blog

Ketika kata-kata tak lagi mudah didengar, buatlah ia senantiasa mudah dilihat
 
 
 

Catatan Hati Bunda

Alhamdulillah,..

Tadi malam akhirnya tamat juga kubaca bukunya mbak Asma Nadia, Catatan Hati Bunda. Sudah selama dua belas hari belakangan, membaca buku ini menjadi rutinitas setelah sholat Ashar sehabis pulang dari kantor. Ada perasaan senang, sejuk, terharu sekaligus sedih pada saat membacanya. Dan perasaan-perasaan itu justru semakin kuat saja kurasakan setelah kini menamatkannya.

Senang karena aku menemukan tempat hiburan untuk sejenak refreshing setelah seharian jenuh memandang monitor yang tak pernah berubah bentuk di kantor. Sejuk karena aku menemukan beberapa bahasan materi yang seirama dengan keseharianku dulu semasa SMA dan kuliah, yang sempat hilang ketika pertama aku menginjakkan kaki di Bali. Terharu karena tulisan di buku ini membuatku seakan sedang membaca diary Bundaku sendiri yang sekarang sedang mendoakanku di Sumenep (Oh, I miss you..Bunda..). Dan tentu saja sedih karena dengan menamatkannya, berarti aku akan kehilangan sesuatu yang telah berhasil membuatku merasa senang, sejuk, terharu, dan sedih secara bersamaan.

Selain itu ada hal lain sebenarnya yang membuatku merasa sangat sedih. Berakhirnya buku ini seakan-akan juga mengakhiri episode panjang membaca diary Bundaku. Tak kan lagi kutemui rangkaian kata yang melukiskan perasaannya. Melalui buku ini bisa kurasakan bila ternyata Bunda juga pernah bersedih, walau tak pernah sedikitpun dia berkeluh kesah dalam kesehariannya. Di sini baru kutahu kalau Bunda pernah marah kepadaku, tapi tak pernah dia tunjukkan secara langsung dan terang-terangan di depanku. Dan ternyata, Bunda sangat senang bila aku sedang ada di rumah. Tapi dasar diriku yang tak peka, malah seringnya sibuk sendiri dengan urusan organisasi di sekolah dan kampus. Maafkan aku Bunda.

Meskipun kesannya memang terlalu didramatisir, tetapi memang begitulah adanya. Berakhirnya membaca buku ini sepertinya juga membawaku melayang ke masa depan, dimana aku sudah bener-bener tak bisa lagi berkomunikasi dengan Bunda dalam arti yang sebenarnya. Ketika tak bisa lagi kutemui wajahnya yang teduh tersenyum setiap memandangku. Ketika tak bisa lagi kucium tangannya setiap aku pulang ke rumah. Ketika tak bisa lagi kudengar lembut suaranya yang bercerita betapa beliau tak bisa tidur dan tak enak makan ketika tiba-tiba merasa kangen kepadaku. Astaghfirullah…

Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro…

Ya Allah, ampunilah segala dosaku beserta kedua orang tuaku, dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sejak masih kecil.

Ya Allah, Ya Rabb, aku memohon kepadamu…jangan dulu Kau panggil mereka sebelum aku berkesempatan untuk membahagiakannya. Berilah kemudahan untukku untuk senantiasa berbakti dalam bentuk apapun kepadanya…

Kumpulkanlah kembali kami sekeluarga kelak di surgamu yang kekal…

Amiin…

PS: Di cover buku ini tertulis “Hadiah terbaik untuk para ibu dan calon ibu”. Aku tentu bukanlah seorang ibu, dan juga bukan calon ibu. Aku membaca buku ini dari sudut pandang anak dari seorang Ibu. Dan…efeknya sudah kuceritakan di depan. Well done buat mbak Asma Nadia. Kunantikan karya2 dahsyat berikutnya.

~ Ditulis pada Friday, November 7th, 2008, jam 8:33 pm ~
Balik ke atas

Sudah ada 3 tanggapan

  1. eeem… akhirnya ada tempat cari inspirasi dan berbagi…cuha met

    frandi: bukan akhirnya mbak, ni baru awalnya :)

  2. Assalam

    Haru membaca kesanmu ttg buku ini. Juga memahami arti
    Bunda nun di sana, bagimu. Semoga kesalehan itu
    Mengantarmu dan bunda ke surgaNya. Jazakumullah telah berkenan
    Menjadikan buku ini teman selama bbrp hari mbacanya. Salam

    frandi: Wa’alaikumussalam. Justru saya yang terima kasih mbak, eh…bunda :) . Kemarin buku ini juga saya berikan kpd kakak saya di rumah, yang kebetulan baru saja menjadi seorang bunda juga. Kesannya, alhamdulillah sama seperti saya. Bahkan mungkin lebih meresapinya. Btw, ada rencana menulis “Catatan hati seorang anak”, bunda? :)

  3. Subhanallah…………………………

    jujur, sampe skr q lum bc “catatan hati BUNDA”, tp stlh mndngr pnuturn dr akh frandi, q begt ingin membcny. Hg, membwnya ke alam air mata. sebagai tanda bhw saat ini….
    q bgtu merindumu…..ibu……….

    q ykn, kebeningn hati akh frandi unt ibu d sumenep adl jmbatan mnuju ridhaNya….

    for this moment ‘n for the future……….
    so close with Allah….

    frandi: amiin…terima kasih ukhti. Mungkin kemarin memang lg pas aja momennya. Pas kangen ma Bunda, pas ada buku ini untuk dibaca. Akhirnya jadi melow2 gmn gitu ^^

  4. Nyumbang ide :

    Oh iya, Karena fitur "Comment Moderation" sedang diaktifkan maka ada kemungkinan tanggapan Anda gak akan langsung ditampilkan. Jadi, sabar dulu yah. Gak perlu ngirim lagi, oke!

 

© RumahFrandi Group 2010

Theme: RumahFrandi Curtain ver. 1.3.2