RumahFrandi Blog

Ketika kata-kata tak lagi mudah didengar, buatlah ia senantiasa mudah dilihat
 
 
 

Enjoy The Process

“Sepuluh menit babak pertama berjalan, Deltras memperoleh peluang pertama lewat sepak pojok Gustavo Chena. Namun bola yang mengarah langsung ke mulut gawang dapat diantisipasi dengan baik oleh bek Dian Agus. Tim tamu mampu unggul terlebih dahulu menit ke-20 setelah M. Ridwan sukses melewati hadangan dua pemain tuan rumah di sisi kanan pertahanan Deltras.

Deltras punya peluang menit ke-32 lewat pemain pengganti Choirul Anam. Akan tetapi bola hasil sundulannya meneruskan umpan Danillo Fernando masih melenceng tipis di sisi kiri gawang Pelita. Begitu juga usaha Chena sepuluh menit kemudian, masih gagal setelah tendangan kerasnya dari luar kotak penalti menyamping di sisi kiri jala Pelita. Skor tak berubah hingga turun minum.

Deltras mendapat kesempatan emas untuk menyamakan skor melalui titik putih di menit ke-54, menyusul pelanggaran Johan Ibo terhadap Choirul Anam. Namun Chena yang menjadi eksekutor gagal menunaikan tugasnya. Tembakannya melebar tipis di sisi kiri gawang Dian Agus. Chena akhirnya membayar tuntas kegagalannya dengan mencetak gol penyama kedudukan di menit 68, setelah tendangan first time gelandang Argentina itu di dalam kotak penalti, meneruskan umpan Dede Hugo, menembus jala Dian Agus. Dede pun kemudian mencatat namanya di papan skor di menit 74. Umpan Danillo ke dalam kotak penalti diterima dengan dada oleh Dede. Dengan membelakangi gawang ia melepaskan tendangan pelan namun terukur, yang bersarang di pojok kanan gawang Pelita.”

Jalannya pertandingan Deltras vs Pelita Jaya yang berakhir dengan 2-1 (Courtesy DetikSport.com)

Aku sendiripun sempat menonton pertandingan ini kemarin, meskipun hanya pada babak II saja, karena sebelumnya masih nonton Raport Idola Cilik. Yang ingin aku ceritakan sebenarnya bukan hasil pertandingannya, karena kuyakin tak semua yang membaca tulisanku ini senang akan bola. Deltras menang 2-1 atas Pelita di kandang sendiri, so what? Tidak ada yang istimewa.

Tapi yang ingin kuperlihatkan di sini adalah proses jalannya pertandingan sehingga Deltras bisa menang. Coba cermati kembali ulasan pertandingan di atas. Sungguh dramatis bukan? Sempat tertinggal lebih dulu, penalti yang gagal, kemudian berhasil menyamakan kedudukan, dan akhirnya bisa membalik keadaan. Apalagi kalau kemudian kita kembali diingatkan bahwa saat ini Deltras sedang berjuang keluar dari jurang degradasi. Tentu kemenangan 2-1 ini menjadi lebih terasa istimewa.

Dalam sepakbola, mencetak gol adalah tujuan utamanya. Apapun yang terjadi di lapangan selama 2×45 menit, yang terpenting adalah hasil akhirnya. Boleh saja sejak kick-off sebuah tim memenangkan ball posession sampai 75%. Tapi kalau pada menit terakhir di masa injury time justru tim lawan yang berhasil memasukkan bola ke dalam gawang, maka tetap tim lawanlah yang menang. Namun jika dipikir kembali, kalau memang hasil akhir adalah segala-galanya dalam permainan sepak bola, lalu kenapa orang-orang sampai rela bangun malam-malam hanya untuk menyaksikan siaran langsungnya? Bukankah lebih nyaman kalau kita tinggal menunggu info skor akhir di berita keesokan harinya? Tidak usah ngantuk-ngantuk, semuanya sudah tersaji dengan rapi beserta hasil dari pertandingan lainnya. Begitu?

Begitupun juga dengan yang terjadi pada Oik yang harus tinggal kelas setelah mendapat raport merah di Idola Cilik. Tentu kalau hanya kita diinformasikan dengan berita ini, sama sekali tak ada yang menarik. Namun, bagi mereka yang sejak awal mengikuti proses perjalanan si Oik ini sejak mendaftar sampai berhasil masuk 5 besar, pastinya akan merasakan hal yang lain ketika menyaksikan “kegagalannya” melaju menuju 4 besar.

Di dalam ajang seperti Idola Cilik, tujuan akhirnya tentu saja menjadi nomor 1, menjadi seorang Idola. Tapi sekali lagi, kalau memang itu adalah hal terpentingnya, trus kenapa masih saja banyak orang yang menyaksikan acara ini secara live setiap minggunya. Meskipun jujur saja, terkadang suara para kontestan tak lebih merdu dari suara orang kebanyakan. Malah ditambah lagi mereka rela meluangkan pulsa hanya untuk mendukung Idolanya, yang tentu saja tak pernah dia kenal sebelumnya. Why?

Moral apa yang bisa diambil? Ternyata, setiap orang secara alami telah didesain untuk menyukai proses, bukan sekedar hasil akhir. Apa menariknya coba mengetahui skor akhir tanpa mengetahui jalannya pertandingan. Ngapain juga dikasi tahu siapa yang tidak naik kelas di Idola Cilik setiap minggunya tanpa mengetahui step-step perjuangannya untuk sampai di stage itu. Hasil akhir bukanlah segalanya.

Justru proses menuju ke sanalah yang menentukan ‘feel’ nya. Tapi anehnya kita sering lupa akan hal yang keliatannya remeh temeh ini. Maunya serba cepet, serba instant, don’t care about the process.

Intan permata yang paling mahal adalah yang paling lama dan paling dalam tertanam di perut bumi. Pedang yang berkualitas tinggi sudah mengalami proses dibakar dan ditempa dalam waktu yang tidak sebentar. Kualitas seorang pilot ditentukan dari seberapa banyak jam terbangnya. See…semuanya tak mengenal kata instant untuk mencapai taraf tertinggi dalam hidupnya.

Trus, gmn donk kalo setelah melewati proses yang menyakitkan dan berdarah-darah ternyata hasilnya tidak seperti yang kita bayangkan. Haha…who care? Toh kita kan memang cuma diwajibkan buat berusaha, bukan diwajibkan untuk berhasil. Kita kan dinilai dari apa yang kita kerjakan, bukan dari apa yang kita dapatkan sebagai hasil akhirnya.

So..enjoy the process, bro!

~ Ditulis pada Monday, March 2nd, 2009, jam 1:49 pm ~
Balik ke atas

Nyumbang ide :

Oh iya, Karena fitur "Comment Moderation" sedang diaktifkan maka ada kemungkinan tanggapan Anda gak akan langsung ditampilkan. Jadi, sabar dulu yah. Gak perlu ngirim lagi, oke!

 

© RumahFrandi Group 2010

Theme: RumahFrandi Curtain ver. 1.3.2